Jumat, 17 Agustus 2012

ARIEF RAHMAN HAKIM PAHLAWAN AMPERA


Tulisan ini disusun penulis untuk mempertahankan kenangan terhadap Arief Rahman Hakim - Pahlawan Ampera. Banyak pihak berusaha menghapuskan kematian Arief Rahman Hakim yang telah menjadi martir dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat ini untuk mendapatkan foto Arief Rahman Hakim pun sudah sulit. Penulis mengharapkan tulisan ini dapat menjadi suatu catatan yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam mengungkapkan peristiwa gugurnya Arief Rahman Hakim.

Peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu pada waktu mahasiswa dan pelajar berjuang menumbangkan rejim pemerintah orde lama sudah terlupakan. Nama Arief Rahman Hakim pahlawan Ampera sudah terlupakan. Banyak orang sudah tidak lagi mengenal Arief Rahman Hakim sang Pahlawan Ampera.  Saat gugurnya Arif Rahman Hakim dan beberapa pahlawan Ampera lainnya gugur sudah  terlupakan. Tahun 1965 - 1966 merupakan pada masa ekonomi yang sulit dan kejadian gugurnya Arief Rahman Hakim adalah   pada bulan Januari 1966, manakala inflasi mencapai 650%  dan terjadi pada saat Bung Karno menaikkan harga bensin empat kali lipat menjadi Rp. 1000 per liter. Harga beras semakin tak terkendali padahal Indonesia adalah negara penghasil beras.. Di Jakarta, harga beras yang semula Rp. 800 per kilogram mendadak melonjak menjadi Rp. 5000 per kilogram. Kondisi politik waktu itu sudah semakin rapuh dengan semakin tidak puasnya masyarakat terhadap bertahannya sang Proklamator sebagai Presiden RI setelah kudeta yang gagal pada tanggal 30 September 1965 dan juga dinilai gagal mengendalikan perekonomian.

Sehingga pada tanggal 10 Januari 1966, merupakan puncak atas kesabaran mahasiswa dan masyarakat sehingga mahasiswa meleteuskan aksi demonstrasi di Jakarta, sebagai sikap penentangan terhadap kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI, Retul Kabinet Dwikora dan TurunkanHarga

Tanggal 24 Februari 1966,  Presiden Soekarno bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di Jakarta.  Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Salah satu upaya penolakan itu adalah berupa unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta, melainkan dari mana-mana. Mereka sudah sejak subuh berbondong-bondong dan bergerombol-gerombol menuju lapangan Gambir atau Monas. Jaket warna warni yang memberikan gambaran puluhan universitas terwakili, kian lama kian ramai dan dinamis.  Warna kuning, merah, hijau, biru, orange, dan hijau memenuhi lapangan yang luasnya sekitar ratusan hektar itu. Mahasiswa dan pelajar  melakukan aksi memacetkan lalu lintas. Ban mobil-mobil dikempeskan sehingga menteri-menteri  yang akan dilantik terhambat ke istana.

Pagi itu Arief Rahman Hakim bersama-sama ribuan  demonstran mahasiswa dan pelajar   telah berada di mulut Jalan Veteran 3 atau atau dulu  di sebut jalan segara tepatnya  jalan yang menghubungkan Jalan Merdeka Utara dengan Jalan Veteran.  Di  jalan Veteran 3  ini terletak Markas Resimen Cakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Sebagaimana lazimnya demonstrasi mahasiswa, mereka berteriak-teriak dan Arief Rahman Hakim lebih banyak diam dan mengamati tingkah laku rekan-rekan demonstran yang lain.  Teriakan para demonstran  kadang-kadang disertai kata-kata ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi yang menjadi sasaran. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas berjaga-jaga tepat di seberang jalan, tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan para demonstran. Mereka mulai mengancamkan senjata mereka kepada para demonstran. Acaman ini tidak menakutkan mereka dan ejekan serta yel-yel terus dilontarkan. Karena tidak tahan tekanan maka beberapa anggota Pasukan Cakrabirawa melakukan peringatan tembakan keatas. Keadaan ini membuat mahasiswa panik dan sebagian malah lebih menekan Pasukan Cakrabirawa sehingga beberapa dari antara anggota Pasukan Cakrabirawa mulai melakukan rentetan tembakan kearah para demonstran. Hal ini membuat para mahasiswa semakin kacau dan panik. Para demonstran panik berlarian sambil berteriak menyerukan Allahu Akbar sambung menyambung. Pada waktu itulah Arief Rahman Hakim tertembak rentetan  peluru pasukan  Cakrabirawa secara brutal sehingga roboh berlumuran darah. Segera setalah kejadian itu para demonstran dan rekan-rekan mahasiswanya belum berani menolongnya. Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan mahasiswanya  berani beranjak dan melakukan evakuasi tubuh Arief Rahman Hakim  mengerang terkulai dengan Jaket Kuning  bersimbah darah. Dalam perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.

  
Hari Jumat 25 Februari 1966, ribuan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P Kebayoran Baru. Jenazah Arief Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI di Salemba  menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dengan iringan mahasiswa dan pelajar yang mengantarkannya. Meninggalnya Arief Rahman Hakim sebagai martir perjuangan mahasiswa  bersama seorang pelajar yang bernama Zubaedah  membuat demonstrasi semakin panas. Mahasiswa dan pelajar dari seluruh pelosok Indonesia bergabung dan melakukan aksi demonstrasi mahasiswa untuk menuntut pembubaran PKI dan turunnya Bung Karno. Jaket Kuning yang bersimbah darah Arief Rahman Hakim dijadikan bendera Pataka simbol perjuangan dengan diarak bergerak keliling Jakarta Pusat  untuk membangkitkan semangat rakyat menurunkan Orde Lama. 

Demonsterasi mahasiswa pada hari itu telah memberi tekanan kepada Soekarno.  Tekanan yang terjadi berhasil membuat Soeharto memaksa Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang dikenal juga dengan Super Semar dan menjadi senjata untuk menjatuhkan bung Karno. Super Semar telah dijadikan legitimasi oleh Soeharto atas nama Presiden untuk membubarkan PKI dan melarang seluruh kegiatan PKI dan ormasnya sebagai partai terlarang untuk melakukan kegiatan di seluruh Indonesia.

Gugurnya Arief Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai tumbal perjuangan untuk menurunkan rejim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kematian Arief Rahman Hakim telah menjadikannya sebagai martir dan  simbol perjuangan bagi Angkatan Pemuda 66. Nurcholis Majid, waktu itu masih sebagai mahasiswa IAIN berseru dalam khotbah melepas jenazah Arif Rahman Hakim  bahwa “Teladan yang syahid ini membuat kita semakin teguh melanjutkan perjuangan.”

Arief Rahman Hakim dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan nama Ataur Rahman.. Kedua orang tua kandungnya adalah Haji Syair dan Hakimah yang merupakan pengikut taat dari sekte Islam Ahmadiyah. Pada th. 1958, Arief Rahman Hakim berhasil tamat SMP dan pindah ke Jakarta tepatnya di bilangan daerah Tanah Tinggi untuk meneruskan pelajarannya di SMA. Setelah lulus SMA, pemuda  Arief Rahman Hakim berhasil diterima masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arief Rahman Hakim adalah seorang pemuda yang riang dan sangat senang aktif dalam melakukan kegiatan organisasi kemahasiswaan dan agama.  Selain itu,  Arief Rahman Hakim juga dikenal sebagai pemuda yang pandai bergaul dan rendah hati serta senang bekerja untuk kepentingan kegiatan organisasi pemuda.

Di Jakarta, Arief Rahman Hakim sangat dekat dengan pamannya  Tn Guru  Ahmad Nurudin yang menjadi mubaligh Ahmadiyah di Lombok. Pengaruh ajaran pamannya ini sangat kuat pada dirinya yang menanamkan perlunya berkhidmat kepada bangsa, agama dan sesama manusia. Arief Rahman Hakim tidak memperdulikan pandangan bahwa Ahmadiyah dinilai oleh sebagian besar umat Islam tidak mengikuti ajaran Islam yang murni. Malah ia meyakini bahwa paham Ahmadiyah merupakan suatu pemurnian kembali kepada ajaran Islam. Hal ini telah mendorong pemuda Arief Rahman Hakim menjadi aktivis pemuda Ahmadiyah dan bergabung pada organisasi Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI)  Jakarta. Di Jakarta ia sangat aktif mengikuti kegiatan Khudamul Ahmadiyah sehingga dia akhirnya dipercaya menjadi pengurus MKAI Jakarta sebagai  Sekretaris bidang Keolahragaan.

Kegiatannya sebagai pemuda dan pengurus Khudamul Ahmadiyah Jakarta dapat dikatakan sangat aktif. Banyak hal yang dilakukannya untuk mengaktifkan kegiatan para pemuda. Dia tidak pernah lelah untuk menyelenggarakan pertandingan olah raga seperti bulutangkis, sepak bola, tenis meja dan bola volley. Untuk keperluan penyelenggaraan ini dengan penuh semangat Arief Rahman Hakim mengupayakan penyediaan dan peminjaman lapangan olah raga  serta pengadaan meja tennis meja. Namun demikian, sebagai seorang pemuda Ahmadiyah,  Arief Rahman Hakim juga belajar mendalami agama Islam dan rajin mengikuti kegiatan sholat dan ceramah di Mesjid Ahmadiyah. 

Pandangan ideologi pemuda Arief Rahman Hakim belum terbentuk mendalam.  Belum banyak yang mengetahui bahwa Arief Rahman Hakim dalam pergaulannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah merasakan adanya kebimbangan pada dirinya untuk memilih Organisasi Himpunan Islam (HMI) atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kebimbangannya ini pernah disampaikannya kepada seniornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tergabung di HMI. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya termasuk diantaranya adalah posisinya sebagai pengikut Ahmadiyah dan ketertarikannya pada kegiatan mahasiswa GMNI.  Sebelum Arief Rahman Hakim meninggal sesungguhnya ia hampir memutuskan untuk masuk dalam organisasi GMNI namun hal belum sempat dilakukannya karena harus gugur pada tanggal 24 Februari 1965. Tentunya hal ini sangat ironis karena kemudian para mahasiswa dan pemuda  Angkatan Pemuda 66 ini harus berhadapan dan bentrok dengan Gerakan Pemuda Marhaen yang mendukung Sukarno.

Arief Rahman Hakim berdasarkan ketetapan MPRS No. XXIX/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 ditetapkan secara menyeluruh sebagai Pahlawan Ampera. Walaupun ketetapan MPRS tersebut tidak secara tegas menyebutkan Arief Rahman Hakim adalah pahlawan Ampera  tetapi bunyi ketetapan MPRS tersebut dimaksudkan untuk menetapkan setiap korban perjuangan menegakkan dan melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat adalah Pahlawan Ampera. Ketetapan MPRS nampak tidak berani menyebutkan nama-nama pahlawan Ampera dan juga tidak tegas memerintahkan kepada Pemerintah untuk menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan Ampera. Beberapa pahlawan ampera gugur menjadi martir oleh pasukan rejim Orde Lama tapi beberapa lainnya juga oleh pasukan dan atas perintah rejim yang baru yaitu Orde baru. Tampaknya negara dan para politisi cenderung tidak ingin menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan ampera namun para penyelenggara kekuasaan menikmati perubahan yang dihasilkan oleh para martir dan tumbal perubahan.

Sulit dipahami tokoh politik dan paranormal  Permadi  dengan naif mengatakan bahwa tokoh Arief Rahman Hakim adalah  tokoh fiktif. Sejarah sudah tidak dapat dipungkiri oleh kita semua bahwa Arief Arief Rahman Hakim adalah martir dan simbol perjuangan untuk merobohkan rejim orde lama. Sejarah juga sudah mencatat bahwa Universitas Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mencantumkan nama Arif Rahman Hakim sebagai sarjana kedokteran anumerta  dan sejarah menyaksikan serta mencatat dalam buku-buku pelepasan jenazah Arief Rahman Hakim pada tanggal 25 Februari 1966 dari Aula UI Salemba. Rakyat indonesia menyaksikan iring-iringan Jaket Kuning Berdarah pada tanggal 24 dan 25 Februari 1966 sehingga akan sangat naif kalau seorang Permadi mengatakan Arief Rahman Hakim adalah tokoh fiktif. Namun sejarah juga mencatat bahwa Permadi adalah tokoh GMNI dan seorang marhaenis pemuja Soekarno. Hal ini menjadi tampak logis karena sejarah juga mencatat upaya para pendukung Soekarno untuk meredam aksi Angkatan Pemuda 66 pada waktu itu. Tapi pernyataan Permadi menjadi ironis kembali karena Arief Rahman Hakim yang dikatakannya sebagai tokoh fiktif sebenarnya juga simpatisan dari GMNI dan hampir menjadi anggota GMNI apabila tidak gugur.