Jumat, 17 Agustus 2012

ARIEF RAHMAN HAKIM PAHLAWAN AMPERA


Tulisan ini disusun penulis untuk mempertahankan kenangan terhadap Arief Rahman Hakim - Pahlawan Ampera. Banyak pihak berusaha menghapuskan kematian Arief Rahman Hakim yang telah menjadi martir dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat ini untuk mendapatkan foto Arief Rahman Hakim pun sudah sulit. Penulis mengharapkan tulisan ini dapat menjadi suatu catatan yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam mengungkapkan peristiwa gugurnya Arief Rahman Hakim.

Peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu pada waktu mahasiswa dan pelajar berjuang menumbangkan rejim pemerintah orde lama sudah terlupakan. Nama Arief Rahman Hakim pahlawan Ampera sudah terlupakan. Banyak orang sudah tidak lagi mengenal Arief Rahman Hakim sang Pahlawan Ampera.  Saat gugurnya Arif Rahman Hakim dan beberapa pahlawan Ampera lainnya gugur sudah  terlupakan. Tahun 1965 - 1966 merupakan pada masa ekonomi yang sulit dan kejadian gugurnya Arief Rahman Hakim adalah   pada bulan Januari 1966, manakala inflasi mencapai 650%  dan terjadi pada saat Bung Karno menaikkan harga bensin empat kali lipat menjadi Rp. 1000 per liter. Harga beras semakin tak terkendali padahal Indonesia adalah negara penghasil beras.. Di Jakarta, harga beras yang semula Rp. 800 per kilogram mendadak melonjak menjadi Rp. 5000 per kilogram. Kondisi politik waktu itu sudah semakin rapuh dengan semakin tidak puasnya masyarakat terhadap bertahannya sang Proklamator sebagai Presiden RI setelah kudeta yang gagal pada tanggal 30 September 1965 dan juga dinilai gagal mengendalikan perekonomian.

Sehingga pada tanggal 10 Januari 1966, merupakan puncak atas kesabaran mahasiswa dan masyarakat sehingga mahasiswa meleteuskan aksi demonstrasi di Jakarta, sebagai sikap penentangan terhadap kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI, Retul Kabinet Dwikora dan TurunkanHarga

Tanggal 24 Februari 1966,  Presiden Soekarno bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di Jakarta.  Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Salah satu upaya penolakan itu adalah berupa unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta, melainkan dari mana-mana. Mereka sudah sejak subuh berbondong-bondong dan bergerombol-gerombol menuju lapangan Gambir atau Monas. Jaket warna warni yang memberikan gambaran puluhan universitas terwakili, kian lama kian ramai dan dinamis.  Warna kuning, merah, hijau, biru, orange, dan hijau memenuhi lapangan yang luasnya sekitar ratusan hektar itu. Mahasiswa dan pelajar  melakukan aksi memacetkan lalu lintas. Ban mobil-mobil dikempeskan sehingga menteri-menteri  yang akan dilantik terhambat ke istana.

Pagi itu Arief Rahman Hakim bersama-sama ribuan  demonstran mahasiswa dan pelajar   telah berada di mulut Jalan Veteran 3 atau atau dulu  di sebut jalan segara tepatnya  jalan yang menghubungkan Jalan Merdeka Utara dengan Jalan Veteran.  Di  jalan Veteran 3  ini terletak Markas Resimen Cakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Sebagaimana lazimnya demonstrasi mahasiswa, mereka berteriak-teriak dan Arief Rahman Hakim lebih banyak diam dan mengamati tingkah laku rekan-rekan demonstran yang lain.  Teriakan para demonstran  kadang-kadang disertai kata-kata ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi yang menjadi sasaran. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas berjaga-jaga tepat di seberang jalan, tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan para demonstran. Mereka mulai mengancamkan senjata mereka kepada para demonstran. Acaman ini tidak menakutkan mereka dan ejekan serta yel-yel terus dilontarkan. Karena tidak tahan tekanan maka beberapa anggota Pasukan Cakrabirawa melakukan peringatan tembakan keatas. Keadaan ini membuat mahasiswa panik dan sebagian malah lebih menekan Pasukan Cakrabirawa sehingga beberapa dari antara anggota Pasukan Cakrabirawa mulai melakukan rentetan tembakan kearah para demonstran. Hal ini membuat para mahasiswa semakin kacau dan panik. Para demonstran panik berlarian sambil berteriak menyerukan Allahu Akbar sambung menyambung. Pada waktu itulah Arief Rahman Hakim tertembak rentetan  peluru pasukan  Cakrabirawa secara brutal sehingga roboh berlumuran darah. Segera setalah kejadian itu para demonstran dan rekan-rekan mahasiswanya belum berani menolongnya. Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan mahasiswanya  berani beranjak dan melakukan evakuasi tubuh Arief Rahman Hakim  mengerang terkulai dengan Jaket Kuning  bersimbah darah. Dalam perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.

  
Hari Jumat 25 Februari 1966, ribuan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P Kebayoran Baru. Jenazah Arief Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI di Salemba  menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dengan iringan mahasiswa dan pelajar yang mengantarkannya. Meninggalnya Arief Rahman Hakim sebagai martir perjuangan mahasiswa  bersama seorang pelajar yang bernama Zubaedah  membuat demonstrasi semakin panas. Mahasiswa dan pelajar dari seluruh pelosok Indonesia bergabung dan melakukan aksi demonstrasi mahasiswa untuk menuntut pembubaran PKI dan turunnya Bung Karno. Jaket Kuning yang bersimbah darah Arief Rahman Hakim dijadikan bendera Pataka simbol perjuangan dengan diarak bergerak keliling Jakarta Pusat  untuk membangkitkan semangat rakyat menurunkan Orde Lama. 

Demonsterasi mahasiswa pada hari itu telah memberi tekanan kepada Soekarno.  Tekanan yang terjadi berhasil membuat Soeharto memaksa Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang dikenal juga dengan Super Semar dan menjadi senjata untuk menjatuhkan bung Karno. Super Semar telah dijadikan legitimasi oleh Soeharto atas nama Presiden untuk membubarkan PKI dan melarang seluruh kegiatan PKI dan ormasnya sebagai partai terlarang untuk melakukan kegiatan di seluruh Indonesia.

Gugurnya Arief Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai tumbal perjuangan untuk menurunkan rejim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kematian Arief Rahman Hakim telah menjadikannya sebagai martir dan  simbol perjuangan bagi Angkatan Pemuda 66. Nurcholis Majid, waktu itu masih sebagai mahasiswa IAIN berseru dalam khotbah melepas jenazah Arif Rahman Hakim  bahwa “Teladan yang syahid ini membuat kita semakin teguh melanjutkan perjuangan.”

Arief Rahman Hakim dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan nama Ataur Rahman.. Kedua orang tua kandungnya adalah Haji Syair dan Hakimah yang merupakan pengikut taat dari sekte Islam Ahmadiyah. Pada th. 1958, Arief Rahman Hakim berhasil tamat SMP dan pindah ke Jakarta tepatnya di bilangan daerah Tanah Tinggi untuk meneruskan pelajarannya di SMA. Setelah lulus SMA, pemuda  Arief Rahman Hakim berhasil diterima masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arief Rahman Hakim adalah seorang pemuda yang riang dan sangat senang aktif dalam melakukan kegiatan organisasi kemahasiswaan dan agama.  Selain itu,  Arief Rahman Hakim juga dikenal sebagai pemuda yang pandai bergaul dan rendah hati serta senang bekerja untuk kepentingan kegiatan organisasi pemuda.

Di Jakarta, Arief Rahman Hakim sangat dekat dengan pamannya  Tn Guru  Ahmad Nurudin yang menjadi mubaligh Ahmadiyah di Lombok. Pengaruh ajaran pamannya ini sangat kuat pada dirinya yang menanamkan perlunya berkhidmat kepada bangsa, agama dan sesama manusia. Arief Rahman Hakim tidak memperdulikan pandangan bahwa Ahmadiyah dinilai oleh sebagian besar umat Islam tidak mengikuti ajaran Islam yang murni. Malah ia meyakini bahwa paham Ahmadiyah merupakan suatu pemurnian kembali kepada ajaran Islam. Hal ini telah mendorong pemuda Arief Rahman Hakim menjadi aktivis pemuda Ahmadiyah dan bergabung pada organisasi Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI)  Jakarta. Di Jakarta ia sangat aktif mengikuti kegiatan Khudamul Ahmadiyah sehingga dia akhirnya dipercaya menjadi pengurus MKAI Jakarta sebagai  Sekretaris bidang Keolahragaan.

Kegiatannya sebagai pemuda dan pengurus Khudamul Ahmadiyah Jakarta dapat dikatakan sangat aktif. Banyak hal yang dilakukannya untuk mengaktifkan kegiatan para pemuda. Dia tidak pernah lelah untuk menyelenggarakan pertandingan olah raga seperti bulutangkis, sepak bola, tenis meja dan bola volley. Untuk keperluan penyelenggaraan ini dengan penuh semangat Arief Rahman Hakim mengupayakan penyediaan dan peminjaman lapangan olah raga  serta pengadaan meja tennis meja. Namun demikian, sebagai seorang pemuda Ahmadiyah,  Arief Rahman Hakim juga belajar mendalami agama Islam dan rajin mengikuti kegiatan sholat dan ceramah di Mesjid Ahmadiyah. 

Pandangan ideologi pemuda Arief Rahman Hakim belum terbentuk mendalam.  Belum banyak yang mengetahui bahwa Arief Rahman Hakim dalam pergaulannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah merasakan adanya kebimbangan pada dirinya untuk memilih Organisasi Himpunan Islam (HMI) atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kebimbangannya ini pernah disampaikannya kepada seniornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tergabung di HMI. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya termasuk diantaranya adalah posisinya sebagai pengikut Ahmadiyah dan ketertarikannya pada kegiatan mahasiswa GMNI.  Sebelum Arief Rahman Hakim meninggal sesungguhnya ia hampir memutuskan untuk masuk dalam organisasi GMNI namun hal belum sempat dilakukannya karena harus gugur pada tanggal 24 Februari 1965. Tentunya hal ini sangat ironis karena kemudian para mahasiswa dan pemuda  Angkatan Pemuda 66 ini harus berhadapan dan bentrok dengan Gerakan Pemuda Marhaen yang mendukung Sukarno.

Arief Rahman Hakim berdasarkan ketetapan MPRS No. XXIX/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 ditetapkan secara menyeluruh sebagai Pahlawan Ampera. Walaupun ketetapan MPRS tersebut tidak secara tegas menyebutkan Arief Rahman Hakim adalah pahlawan Ampera  tetapi bunyi ketetapan MPRS tersebut dimaksudkan untuk menetapkan setiap korban perjuangan menegakkan dan melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat adalah Pahlawan Ampera. Ketetapan MPRS nampak tidak berani menyebutkan nama-nama pahlawan Ampera dan juga tidak tegas memerintahkan kepada Pemerintah untuk menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan Ampera. Beberapa pahlawan ampera gugur menjadi martir oleh pasukan rejim Orde Lama tapi beberapa lainnya juga oleh pasukan dan atas perintah rejim yang baru yaitu Orde baru. Tampaknya negara dan para politisi cenderung tidak ingin menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan ampera namun para penyelenggara kekuasaan menikmati perubahan yang dihasilkan oleh para martir dan tumbal perubahan.

Sulit dipahami tokoh politik dan paranormal  Permadi  dengan naif mengatakan bahwa tokoh Arief Rahman Hakim adalah  tokoh fiktif. Sejarah sudah tidak dapat dipungkiri oleh kita semua bahwa Arief Arief Rahman Hakim adalah martir dan simbol perjuangan untuk merobohkan rejim orde lama. Sejarah juga sudah mencatat bahwa Universitas Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mencantumkan nama Arif Rahman Hakim sebagai sarjana kedokteran anumerta  dan sejarah menyaksikan serta mencatat dalam buku-buku pelepasan jenazah Arief Rahman Hakim pada tanggal 25 Februari 1966 dari Aula UI Salemba. Rakyat indonesia menyaksikan iring-iringan Jaket Kuning Berdarah pada tanggal 24 dan 25 Februari 1966 sehingga akan sangat naif kalau seorang Permadi mengatakan Arief Rahman Hakim adalah tokoh fiktif. Namun sejarah juga mencatat bahwa Permadi adalah tokoh GMNI dan seorang marhaenis pemuja Soekarno. Hal ini menjadi tampak logis karena sejarah juga mencatat upaya para pendukung Soekarno untuk meredam aksi Angkatan Pemuda 66 pada waktu itu. Tapi pernyataan Permadi menjadi ironis kembali karena Arief Rahman Hakim yang dikatakannya sebagai tokoh fiktif sebenarnya juga simpatisan dari GMNI dan hampir menjadi anggota GMNI apabila tidak gugur.

Sabtu, 13 Maret 2010

GREAT LEADER IN INDONESIA

We have to be proud to some great leader that had built us great heritage building and infrastructure. Sailendra had built us a Borobudur and proved that we had great architect like Gunadharma. We have to be jealous to Daendels who stayed in Jawa for only three years had left us a thousand kilometers road Anyer – Panarukan. We have to know without his idea to build that road Jawa Island would not have the long road and jalan Slamet Riadi in Solo would become the longest road in Java. Raffles had inherited us a beautiful Bogor Palace and Botanical Garden in Bogor. Without Raffles Bogor would become nothing and has no interesting place to visit.


Soekarno, was our President and he is a great leader. He built us many buildings and he was scolded by short sighted people as wasting the national resources just to build glamorous projects. But he left us great Monument National, Istiqlal Mosque, Jatiluhur Dam, Senayan Sport Center, a beautiful Hotel Indonesia, Soekarno Hatta airport, Trans Sumatra Highways, Taman Impian Jaya Ancol and etc. When Soekarno build Istiqlal, he said that he wanted to build a mosque just like Borobudur which might last for thousand years! And like Sailendra had Gunadharma then Soekarno had Silaban as his architect. And the most important he wanted to build national character for Indonesian.

Ibu Tien Suharto was a great first lady too…why? She was a lady with great dreams and was also scolded by people when she built the projects. Tien Soeharto had build Taman Mini Indonesia Indah and some other project like Taman Bunga in Jakarta. What is the good of Taman Mini and Taman Bunga? That gardens have always become the great place to visit for millions Indonesian people. As for her grave she built also a famous graveyard up in the hill which called Astana - Mangadeg Gribangun Matesih – Solo. Thousand people still visit that graveyard every day. One should know how we could have a green Jagorawi highway. It was Tien Soeharto who ordered Jasa Marga to plant threes all along both side the highway. Thank to bu Tien Soeharto.

How is Soeharto? Is he a great Leader? In some way yes….at least he built many dams for the people and could stay in his position for 32 years. But he had no vision for Indonesian people and what he thought was only power.

Habibie is not great leader and nothing much we could remember from him except IPTN. Gus Dur he is surely not great leader but he is greatman and minority owed him something. Megawati she is only Soekarno’s daughter and she left us nothing …………….as to President SBY, we are waiting something from you….please do something for us.







Minggu, 15 November 2009

MANUNGGALING KAWULA GUSTI : PERTEMUAN DENGAN SYEKH SITI JENAR

Seperti biasa kalau ke Solo saya senang makan di warung-warung kecil yang makanannya enak dan menurut saya suasananya nyaman sekali. Pada malam itu setelah makan nasi liwet di daerah Keprabon saya menyempatkan diri singgah di warung wedang ronde di sudut jalan daerah Keprabon. Malam itu mungkin jam sudah menunjukan pukul 23.30 namun di daerah itu masih banyak orang yang jalan di sekitar jalan Slamet Riyadi. Saya datang ke warung itu sendirian dan memilih tempat di paling sudut warung wedang ronde itu. Tempat saya duduk tidak ada orang lain kecuali di meja seberang hanya ada sepasang muda mudi yang sedang menikmati suasana malam dengan menikmati minuman khas kota Solo itu. Entah mengapa malam itu suasana pikiran saya kosong dan seperti ingin menikmati suasana kesendirian.

Tanpa saya sadari sewaktu saya menoleh kesebelah kanan ternyata duduk disebelah saya ada seorang laki-laki separuh baya dengan pakaian sorjan lengkap dengan blangkon kuno khas Jawa jaman dahulu. Lelaki itu duduk dengan kepala menunduk dan dari samping saya dapat melihat separuh wajahnya yang menunjukkan keteduhan dan kedamaian hatinya. Saat itu saya merasakan adanya suasana sepi dan keheningan malam kota Solo yang menurut saya sangat sepi sekali sehingga suara jangkrik pun dapat terdengar. Suara kendaraan pun sudah tidak lagi terdengar kecuali gemeretak bara tungku api pedagang wedang ronde. Sewaktu saya melihat meja seberang saya masih melihat kedua muda-mudi itu namun nampaknya mereka pun sedang laruh pada suasana kediaman malam itu. Tiba-tiba saya mendengar laki-laki di sebelah saya menyapa dengan logat jawa yang kental: "Ki sanak dari mana? Tampaknya ki sanak bukan orang sini ?" Mendengar sapaan yang halus itu hati saya mendorong untuk ingin bertegur sapa dengan orang berpakaian Jawa itu : "betul pak, saya dari Jakarta dan sedang ada keperluan di kota Solo ini. Apakah bapak orang Solo?" Lelaki itu kemudian menoleh dan menatap pada saya dengan matanya yang tajam, namun kemudian saya menyadari bahwa sorot mata lelaki itu memberikan suatu keteduhan dan menunjukan sorot seorang bijaksana yang telah mengenyam pahit getirnya kehidupan dunia. "Tidak ki sanak, saya dulu tinggal di daerah pantai Parang Teritis, tetapi itu hanya singkat sekali." Laki-lagi itu kemudian menghela nafas seperti terkenang pada sesuatu namun kemudian dia melanjutkan:" Saya belum pernah ke Jakarta, saya dengar sekarang kota itu sudah sangat berubah ya?" Laki-laki itu kemudian diam dan kembali menunduk sambil meletakkan kedua tangannya diatas meja. Saya kemudian menegur laki-laki itu: " Apakah bapak ingin wedang ronde? " Laki-laki itu tetap diam sehingga saya memutuskan untuk memesan wedang ronde segelas untuknya. Kemudian ia dengan suara lirih berbisik pada saya: " Dulu pada waktu saya hidup disini, minuman ini memang merupakan kegemaran saya." Saya segera menyahut : " Kalau boleh tahu bapak sekarang tinggal dimana? " Laki-laki itu tersenyum dan kemudian menjawab :" Ki sanak tidak perlu tahu sekarang, karena nanti juga tahu. Tempat kita tinggal sekarang hanyalah sebuah ilusi yang tidak langgeng dan tidak ada artinya dibandingkan dengan tempat kita tinggal nanti." Saya segera sadar bahwa laki-laki ini ingin membawa pembicaraan kepada pembicaraan yang lebih bermakna. "Maksud bapak apa?" saya menyambung perkataanya. "Ki sanak kita hidup hanya sementara, hidup kita harus dipenuhi dengan upaya pendekatan dan pencarian kepada Sang Pencipta." Tukasnya. Sambil menyeruput wedang ronde panas, saya menyambut pernyataannya :" Mengapa demikian pak?" Laki-laki itu menatap saya seolah-olah ingin meyakinkan apakah saya tulus ingin mendengarkannya. Tetapi kemudian laki-lagi itu berkata:" Tubuh lahiriah kita ini hanya bangkai yang tiada ada artinya. Gusti Allah SWT telah memberikan kita jiwa bagi tubuh kita namun manusia seringkali tidak mengetahui bahwa jiwanya perlu diberikan makanan yang baik agar jiwa kita sehat sehingga dapat menikmati kehidupan dialam yang akan datang. Kita sering merasa diri kita hebat, gagah padahal hal itu tidak benar. Manusia itu lemah dan tidak ada artinya karena pada dasarnya manusia itu disisi Yang Maha Kuasa tidak lain hanyalah debu yang tiada artinya. Selama manusia merasa dirinya itu hebat maka dia tidak akan dapat menemukan Sang Pencipta." Lalu saya merasa hati menjadi sangat tertarik dengan pemikirannya dan menyahut:" Apakah itu yang dimaksud dengan manunggaling kawula gusti, ya pak? Tiba-tiba laki-laki itu tersenyum dan pandangannya kembali seperti mengenang sesuatu, kemudian dia menyahut: "Manunggaling kawula gusti adalah suatu proses yang memerlukan waktu dan upaya dari manusia untuk mencari hakikat dirinya sendiri. Tetapi ki sanak benar sekali."


Saya jadi teringat pada Syekh Siti Jenar yang akhir hidupnya tragis harus mati di tangan Sunan Kalijago. Kemudian saya bertanya:" Apakah bapak pernah mendengar nama Syekh Siti Jenar?" Laki-laki itu tiba-tiba tersentak dan terdiam. Kemudian laki-laki itu seperti menerawang dan setelah lama berfikir dia berkata : " Ki Sanak, apa yang di alami orang itu adalah akibat perbuatan dan kesombongan dirinya sendiri. Saya tidak menyalahkan Sunan Gunung Jati ataupun Sunan Kalijago, apalagi Sultan karena pada dasarnya dia sendri telah melakukan kesalahan. Setiap manusia akan melalui tahapan pada tingkatan akhlaknya." Wah..saya mulai merasakan laki-laki itu mulai menerawangkan pikirannya sendiri. Tapi kemudian dia melanjutkan :" Manakala manusia masih pada tahapan nafsi lawamah dia kadang-kadang masih akan melakukan kesalahan dan kesombongan. Syekh Siti Jenar juga melakukan kesalahan dalam menghadapi Sunan Kalijaga. Penyatuan diri manusia pada Sang Khalik hanya dapat terjadi pada saat pikiran dan perbuatan telah konsisten pada penyerahan dirinya dan melupakan segenap hawa nafsu duniawi. Tanpa penyerahan diri yang mutlak maka manunggaling kawula Gusti tidak akan langgeng."

Saya tambah bingung pada perkataan laki-laki itu namun seperti membaca pikiran saya dia melanjutkan: "Manusia tidak cukup hanya berbuat baik untuk dapat menemukan Tuhannya, kerbau adalah makhluk Tuhan yang tidak pernah berbuat kesalahan dan selalu baik tapi kerbau tidak akan masuk surge ki Sanak. Untuk dapat menemukan Sang Pencipta, manusia harus melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada alam, kepada semua makhluk dan kepada sesame manusia. " Lalu saya menyahut: " Apakah itu saja pak? Laki-laki itu menjawab :" Belum ki sanak. Untuk bisa menyatukan diri dengan sang Pencipta manusia harus mengenali sang Khalik secara benar dan percoyo secara hakiki. Tanpa itu ndak mungkin" Apalagi pikir saya dalam hati, tapi laki-laki itu sudah meneruskan: "Kita harus eling…eling……untuk mengingat dan mendapatkan gambaran mengenai kejuitaan dan keindahan yang sempurna dari sang Pencipta. Manusia harus mengenal kebaikan dan sifat-sifat Gusti Allah. Manusia harus terus meminta dan doa pada Gusti Allah supaya diberkahi untuk mendapatkan jalan untuk menyatukan diri " Dan kemudian dia diam dengan kepala tunduk dan melanjutkan dengan dengan suara berbisik: "Ki sanak, buat apa sholat 5 waktu, puasa, bayar zakat, pergi haji kalau sampeyan masih makan riba, berkata ghibat, main perempuan, korupsi, menyembah manusia, membenci sesama makhluk dan tidak menjalankan perintah sang Pencipta. Apakah sampeyan perlu mendapatkan pengakuan manusia bahwa sampeyan manusia alim padahal kelakuan sampeyan tidak berbeda dengan perbuatan khewan? Itu namanya kepalsuan ki sanak atau munafik namanya. Tanpa penyerahan diri dan upaya perbaikan akhlak yang kuat dan terus menerus secara istikomah, manusia akan hidup percuma dan akan gagal untuk melakukan penyatuan diri dengan sang Khaliknya."

Lamat-lamat azan subuh mulai terdengar dan makin lama makin diikuti dengan azan dari mushola-mushola disekitar warung wedang ronde itu. Tiba-tiba saya tersentak oleh suara gelas-gelas beradu warung ronde karena ternyata pemilik warung sudah berkemas untuk mengakhiri jualannya. Sewaktu saya menoleh kepada lelaki berpakaian jawa itu, ternyata dia sudah tidak ada disebelah saya. "Bu bapak yang duduk disebelah saya mana? Tanya saya pada si ibu pedagan wedang ronde. Ibu itu tampak heran dan mulai memandang saya dengan aneh : " Bapak lihat siapa, ya? Dari tadi bapak kan hanya sendiri saja." Saya baru tersadar bahwa malam itu saya telah bertemu dengan orang itu lagi. Dalam benak pikiran saya terpaku bahwa orang yang jumpai malam itu adalah Syekh Siti Jenar. (Los Angeles – 08.11.20009)

Jumat, 30 Oktober 2009

GEDUNG TYPICAL - ARSEK




Gedung Typical-Arsek Bank Indonesia  yang merupakan gedung pertama dibangun sesuai masterplan kompleks perkantoran Bank Indonesia dirancang oleh arsitek senior Zainuddin Kartadiwiria pada tahun 1982 dan selesai dibangun pada tahun 1984 . Banyak orang tidak memahami kehebatan dan keindahan arsitektur gedung Typical – Arsek sehingga dengan mudah mengecam dan menilai gedung ini sebagai gedung yang tidak bagus. Salah satu ejekan kepada gedung Typical – Arsek yang dahulu pernah terkenal adalah "Gedung WC terbesar di Indonesia. " Namun banyak ahli bangunan dan arsitek senior di Indonesia sebaliknya memuji gedung ini sebagai gedung yang indah dan mengatakan gedung ini merupakan contoh arsitektur gedung yang baik. Gedung ini dinilai sebagai gedung yang bagus dan indah karena arsitektur gedung ini dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip dasar arsitektur yang benar. Aspek fungsional dari setiap rancangan dan bagian dari bangunan gedung ini sangat diperhatikan oleh perancangnya sehingga tidak ada bagian dari gedung ini yang tidak dapat dijelaskan manfaatnya. Suatu hal yang mencengangkan adalah konsep green architecture juga sudah merasuki rancangan gedung ini. Sesuai namanya gedung ini dalam masterplan pembangunan gedung Bank Indonesia dimaksudkan untk menjadi typical atau prototype gedung di kompleks perkantoran Bank Indonesia. Sayangnya pemikiran untuk menjadikan gedung ini sebagai typical gedung Bank Indonesia tidak berlanjut. Pembangunan gedung-gedung Bank Indonesia di kompleks perkantoran ini tidak lagi mengikuti rancangan masterplan tersebut.



Gedung Typical dibangun dengan suatu rancangan yang indah sekali dan banyak ahli arsitektur menilai gedung ini mengambil pola dari gedung Herbert F Johnson Museum of Art di Cornell University yang dirrancang oleh I.M. Pei dan John L Sulivan III. Namun rancangan gedung Typical yang terdiri dari 15 lantai itu berbeda dengan gedung Museum of Art Cornell University . Gaya gedung ini juga tampak dari beberapa gedung bank sentral di dunia. Kita ambil contoh misalnya tampak luar gedung Monetary Authority of Singapore juga hampir serupa dengan gedung Typical Arsek. Demikian pula beberapa bangunan gedung Bank Negara Malaysia di Kuala Lumpur memiliki tampak luar yang senada dengan gedung Typical Arsek. Interior gedung Typical Arsek untuk ukuran masa kini akan dikatakan sederhana namun sangat praktikal. Penyekat dan plafond ruang di gedung typical dirancang agar setiap partisi lepasnya  dapat disesuaikan dengan mudah untuk mengikuti kebutuhan ruangan. Suatu hal yang mencengangkan dari gedung ini adalah konsep green building telah diterapkan pada gedung ini. Rancangan gedung ini dibuat sedemikian rupa sehingga hemat energi dan sangat memperhatikan aspek cahaya matahari. Gedung ini sudah melakukan proses air limbah dengan menggunakan Sewage Treatment Processor sehingga air limbah dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman. Efficiency lain yang termasuk dalam gedung ini adalah penyediaan alat "tele transporter" yaitu alat pengiriman dokumen antar gedung dan antar lantai. Alat ini memungkinkan terjadinya efisiensi energi listrik dan penggunaan tenaga kerja.


 Design yang menarik dari gedung Typical Arsek adalah mewujudkan keinginan arsiteknya untuk menjadikan gedung ini sebagai gedung yang hemat energi. Sun shading atau penahan cahaya matahari gedung yang terbuat dari beton concrete dirancang sangat efektif dalam menahan panasnya sinar matahari sehingga kebutuhan energy untuk pendingin relative rendah meskipun biaya pembuatan awalnya relatif mahal. Material yang digunakan pada bangunan ini dari semula dipikirkan agar biaya pemeliharaan gedung ini sangat murah. Façade atau kulit luar gedung Typical – Arsek menggunakan bahan keramik dalam negeri sehingga pembersihan tidak perlu dilakukan. Selain itu, keramik yang digunakan juga adalah keramik dalam negeri yang dapat dikatakan sangat murah. Penggunaan keramik inilah yang membuat banyak pihak mengecam gedung ini sebagai toilet terbesar padahal justru disinilah letak daya kekuatan kharakter gedung ini. Kekuatan kharakter ini dapat membuat gedung ini menjadi bangunan "archeology for the future" sebagaimana harapan seorang arsitek senior Eko Budiardjo untuk gedung-gedung Bank Indonesia.

Hingga saat ini masih terdapat rencana untuk mengubah material keramik façade kedua gedung ini menjadi bahan lain yang lebih modern seperti aluminium kleiding. Pernah pula ada pemikiran bahan façade diganti dengan granit namun dengan pertimbangan harga dan bahaya gempa yang terjadi terus menerus ditahun 2009 keinginan ini tidak lagi dipertimbangkan. Gedung Arsek yang merupakan gedung berlantai 6 dengan letak di sebelah gedung Typical dirancang untuk gedung Arsip dan Ekspedisi Bank Indonesia serta untuk kegiatan kliring perbankan. Sesuai dengan maksud penggunaannya maka pada gedung ini terdapat beberapa lantai ruangan yang dibuat dengan bahan concrete dan interior tahan api dan pada beberapa lantai tidak terdapat jendela atau dengan jendela yang sangat terbatas. Karena semula dirancang untuk kegiatan kliring perbankan maka pada lantai 2 gedung Typical Arsek terdapat menzanine yang indah serta antara mezzanine kedua gedung ini terdapat jembatan penghubung. Design mezanine pada gedung Typical Arsek memberikan kekuatan karakter pada kedua gedung ini. Struktur bangunan diekspose dengan secara terbuka sehingga setiap orang dapat memperhatikan keindahan rancangan bangunan ini sekaligus mengetahui bagaimana kekuatan bangunan ini. Dari ekspose bangunan ini kita juga dapat melihat ketelitian dan kerumitan rancangan yang dilakukan oleh arsiteknya tanpa mengabaikan aspek fungsional dari masing-masing detail keindahan detail yang ditampilkan.


Saat ini sudah ada rancangan untuk melakukan pengubahan facade dan interior gedung Typical-Arsek. Alasan untuk pengubahan ini adalah untuk menyamakan design, irama dan warna antara gedung ini dengan gedung A, B, C dan D serta alasan gedung ini sudah lama sehingga perlu direnovasi. Untuk alasan security dan penyatuan lobby antara gedung Typical Arsek ini pernah ada rencana untuk menghilangkan jembatan penghubung kedua gedung ini. Adanya berbagai pertimbangan antara lain tekanan pandangan publik terhadap Bank Indonesia yang masih terus berlangsung serta berkembangnya kesadaran bahwa rancangan gedung Typical-Arsek perlu dilestarikan telah menyebabkan pelaksanaan pengubahan facade dan penyatuan lobby gedung belum dilaksanakan. Pelestarian gedung Typical-Arsek ini merupakan issue yang masih harus diperkuat hingga pengubahan tidak perlu dilakukan.



Rabu, 29 Juli 2009

SUFISM DAN SYECH SITI JENAR


Pandangan mayarakat umum  di Jawa terhadap Syech Siti Jenar telah berubah seratus persen. Hampir sebagian besar intelektual Islam sudah dapat menerima pandangan dan membenarkan paham Syech Siti Jenar yang dulunya dianggap sesat dan menyesatkan. Paham Syech Siti Jenar sekarang ini sudah dipahami sebagai bagian dari paham sufism yang menyatakan bahwa kehidupan dunia saat ini tidak penting dan manusia harus berusaha menemukan sang Pencipta. Penyatuan diri seorang hamba pada penciptanya. Dalam pandangan seorang sufi, manusia diciptakan oleh Sang Pencipta adalah untuk tujuan Agung, yaitu untuk mengembangkan dan mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Manusia dianugrahi oleh yang Maha Kuasa kepribadian yang bersifat ketuhanan, dan nyata-nyata merupakan wujud utama diantara para makhluk atau minimal merupakan bagian dari makhluk yang bertalian dengan alam semesta. Karena itu manusia harus memenuhi tujuan penciptaannya. Hayat manusia tidak akan berakhir dengan kematiannya dan dengan keluarnya ruh dari badan jasmaninya yang kasar. Ruh akan melanjutkan perjalanan yang tidak akan kunjung habis dalam suatu alam, badan dan bentuk baru.

Pengajaran yang dilakukan oleh Syech Siti Jenar telah menimbulkan kontroversial dikalangan masyarakat terutama di tanah Jawa. Pandangannya bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan atau dikatakannya sesuatu yang mati. Tubuh manusia yang menjadi kepompong bagi jiwa didalam kehidupan di dunia dalam pandangan Syech Siti Jenar tidak lebih dari bangkai. Hidup itu baru benar terjadi setelah manusia meninggalkan dunia dan keduniawian ini. Pandangan ini sewaktu disampaikan dari mulut kemulut menjadi berlipat lipat ganda kekeliruannya. Semua adalah berdasarkan "katanya" bukan berdasarkan suatu fakta. Syech Siti Jenar telah menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah semata-mata berdasar informasi "katanya." Pemahaman sufism mengenai penyatuan diri antara hamba dengan penciptaNya (sebagaimana yang mungkin disampaikan oleh Syech Siti Jenar) adalah merupakan perwujudan tingkat ketinggian komunikasi tertinggi yang dicapai oleh seorang hamba dengan penciptaNya. Penyatuan diri seorang hamba dengan penciptaNya dapat diartikan bahwa sang hamba sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, kemauan yang selama ini datang dari dirinya sendiri. Keadaan demikian dapat terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari hamba itu kepada sang penciptaNya. Diantara para Sunan sebenarnya terdapat yang dapat memahami pandangan Syech Siti Jenar karena mereka sendiri sebenarnya juga manusia-manusia pelaku sufism. Apa salahnya seorang manusia mencari Tuhan sebagai arti bahwa manusia diharuskan untuk mencari Ridho Illahi? Apakah salah untuk mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan itu tidak ada yang ada adalah hanya Tuhan itu sendiri sebagai suatu penegasan bahwa manusia adalah tidak ada arti bagi sang Penciptanya.

Selasa, 14 Juli 2009

SYECH SITI JENAR

Pandangan mayarakat umum  terhadap Syech Siti Jenar telah berubah seratus persen. Hampir semua intelektual Islam sudah dapat menerima pandangan Syech Siti Jenar yang dulunya dianggap sesat dan menyesatkan. Paham Syech Siti Jenar sekarang ini sudah dipahami sebagai paham sufism yang menyatakan bahwa kehidupan dunia saat ini tidak penting dan manusia harus berusaha menemukan sang Pencipta.

Pemahaman sufism mengenai penyatuan diri antara hamba dengan penciptaNya (sebagaimana yang mungkin disampaikan oleh Syech Siti Jenar) adalah merupakan perwujudan tingkat ketinggian komunikasi tertinggi yang dicapai oleh seorang hamba dengan penciptaNya. Penyatuan diri seorang hamba dengan penciptaNya dapat diartikan bahwa sang hamba sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, kemauan yang selama ini datang dari dirinya sendiri. Keadaan demikian dapat terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari hamba itu kepada sang penciptaNya.
Pengajaran yang dilakukan oleh Syech Siti Jenar telah menimbulkan kontroversial dikalangan umat Islam di tanah Jawa. Pandangannya bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan atau dikatakannya sesuatu yang mati. Tubuh manusia yang menjadi kepompong bagi jiwa didalam kehidupan di dunia dalam pandangan Syech Siti Jenar tidak lebih dari bangkai. Hidup itu baru benar terjadi setelah manusia meninggalkan dunia dan keduniawian ini. Pandangan ini sewaktu disampaikan dari mulut kemulut menjadi berlipat lipat ganda kekeliruannya. Semua adalah berdasarkan "katanya" bukan berdasarkan suatu fakta. Syech Siti Jenar telah menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah semata-mata berdasar informasi "katanya."


Ajaran Syech Siti Jenar telah menimbulkan keresahan di dalam masyarakat Jawa. Pandangan Syech Siti Jenar telah menimbulkan perbedaan pendapat diantara Walisongo. Diantara para Sunan dapat memahami pandangan Syech Siti Jenar karena mereka sendiri sebenarnya juga manusia-manusia pelaku sufism. Apa salahnya seorang manusia mencari Tuhan sebagai arti bahwa manusia diharuskan untuk mencari Ridho Illahi? Apakah salah untuk mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan itu tidak ada yang ada adalah hanya Tuhan itu sendiri sebagai suatu penegasan bahwa manusia adalah tidak ada arti bagi sang Penciptanya. Namun hasutan dan kesombongan lebih berkuasa sebagai perwujudan dari sifat egoisme manusia. Kepentingan dan kebencian telah mewarnai apa yang dinamai sebagai suatu keresahan. 

(masih dalam proses penulisan)

Sabtu, 11 Juli 2009

MAULANA RACHMAT ALI HAOT - MUBALIGH AHMADIYAH PERTAMA

Saya ingin menyampaikan beberapa cerita mengenai berbagai kejadian yang diceritakan oleh orang tua-tua dan pengalaman pribadi dengan Mubaligh Jemaat Ahmadiyah. Mudah-mudahan cerita ini dapat menambah keimanan dan bermaat bagi kita semua. Dalam tulisan saya ini mungkin ada yang kurang tepat sehingga saya terbuka untuk mendapatkan koreksi.

Mlv Rachmat Ali adalah mubaligh Ahmadiyah Qadian yang pertama datang ke Indonesia. Banyak sekali cerita dan pengalaman para sesepuh di jemaat dan  para sahabat Mlv Rachmat Ali juga sudah wafat. Sebagian besar menyampaikan cerita pengalaman mereka dengan rasa terharu dan kecintaan yang besar terhadap Sang Guru Mlv Rachmat Ali HAOT.  Mlv Rachmat Ali adalah seorang mubaligh yang mengorbankan dirinya untuk menyampaikan pembaharuan Islam dan penyebaran paham Ahmadiyah di Indonesia. Sebagai murid  dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beliau berpisah dengan keluarga tercinta selama 25 tahun untuk menyebarkan kebenaran Imam Mahdi.

Kisah-kisah mengenai Mlv Rachmat Ali adalah sebagai berikut.
  
1. Hujan dihentikan

Hampir semua Ahmadi pernah mendengar cerita mukjizat doa yang dilakukan oleh Mlv Rahmat Ali HAOT. Pada suatu masa terjada pelaksanaan diskusi antara Mlv. Rahmat Ali HAOT dengan seorang pendeta kristen Bandung. Perdebatan berlangksung sangat sengit dan seperti biasa semua argumentasi sang pendeta dapat dipatahkan oleh Mlv Rachmat Ali.

Pada saat perdebatan berlangsung tiba-tiba terjadi turun hujan yang sangat lebat. Sang pendeta yang sudah terdesak dalam perdebatan tiba-tiba mengatakan kapada Mlv. Rahmat Ali HAOT :” jika anda memang seorang yang benar maka coba tuan hentikan hujan ini.” Mlv Rahmat Ali HAOT langsung menyambut dan berkata :” baik.” Dan beliau langsung berdoa dihadapan hadirin. Setelah doa beliau lakukan tiba-tiba hujan berhenti.

Apa yang terjadi dengan sang pendeta? Pendeta tersebut tidak mengakui mukjizat doa yang diperlihatkan oleh Mlv. Rahmat Ali HAOT. Dia menganggap kejadian hujan berhenti hanyalah suat kebetulan. Memang seseorang untuk dapat menerima kebenaran diperlukan karunia dari Allah SWT.

2. Kedatangan Rizki.

Bapak saya R. Boenjamin adalah murid dari Mlv Rahmat Ali HAOT. Bapak bercerita bahwa beliau selalu rajin ke petojo untuk sholat dan bertemu dengan sang Guru Mlv Rahmat Ali HAOT yang dicintainya. Suatu saat Mlv. Rahmat Ali mengatakan kepada bapak bahwa beliau sudah lama tidak makan enak. Spontan bapak mengajak Mlv Rahmat Ali untuk jalan mencari makan di luar. Mlv. Rahmat Ali kemudian bersabda kepada bapak:” tidak, tuan duduk saja disini nanti insya Allah akan datang rizki.” Karena itu bapak kemudian duduk saja dan tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tidak berapa lama terdengar suara seorang ibu lajnah datang dan mengucapkan salam :” Assalamualaikum.” Apa yang diucapkan oleh Mlv Rahmat Ali HAOT menjadi kenyataan. Ibu lajnah itu membawa makanan berupa masakan ayam yang lezat untuk disampaikan kepada sang guru yang dicintainya Mlv Rahmat Ali HAOT. Masya Allah.

3. Mimpi Mlv Rahmat Ali HAOT

Bapak saya pernah menceritakan suatu kejadian dimana Mlv Rahmat Ali menyatakan penyesalannya. Salah seorang murid Mlv Rahmat Ali HOAT adalah Embun Abdullah. Beliau adalah orang yang sholeh dan saya selalu sering bertemu beliau di Mesjid Balikpapan. Bapak saya menceritakan bahwa pada waktu Embun Abdullah menikah Mlv Rahmat Ali HAOT nampak kurang setuju tapi beliau tidak melarangnya. Namun demikian Mlv Rahmat Ali merasa beliau telah memperlihatkan rasa ketidak senangannya kepada isteri Embun Abdullah. Suatu saat Embun Abudullah sakit dan Mlv Rahmat Ali HOAT memperhatikan bagaimana bakti dan kesetiaan isteri Embun Abdullah. Pagi, siang dan sore isteri Embun Abdullah selalu dengan setia datang ke rumah sakit membawa masakan untuk suaminya tercinta. Hal ini tidak pernah luput dari perhatian sang Guru. Pada suatu siang isteri Embun Abdullah mengalami musibah kecelakaan yaitu dilindas Trem pada saat membawa makanan untuk suami tercinta. Kejadian ini sangat memukul Mlv. Rahmat Ali HAOT. Beliau menyampaikan kepada bapak saya bahwa beliau sangat menyesal. Mlv Rahmat Ali menyatakan bahwa beliau pernah bermimpi dan melihat isteri Embun Abdullah meninggalkan suaminya. Mlv. Rahmat Ali HOAT sangat yakin bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan bahwa isteri Embun Abdullah akan meninggalkan suaminya. Tetapi beliau telah salah menafsirkan mimpinya bahwa isteri Embun Abdullah akan meninggalkan suaminya karena tidak setia. Hal ini telah menyebabkan Mlv Rahmat Ali HAOT menyesal dan menyatakan bahwa isteri Embun Abdullah adalah wanita yang baik dan setia serta beliau selama ini telah keliru menafsirkan.

4. Neraca Trading Company

Bapak saya R. Boenjamin pernah menceritakan mengenai Neraca Trading Company. Kisah ini tidak sebenarnya tidak begitu enak untuk diceritakan. Tetapi kisah ini merupakan kisah untuk Jemaat Indonesia yang perlu dicatat. Neraca Trading Company dibentuk oleh Mlv. Rahmat Ali dengan tujuan untuk membiayai penerbitan buku-buku Jemaat. Perusahaan ini telah berhasil menerbitkan beberapa buku karya Mlv Rahmat Ali HAOT. Dari cerita bapak saya menangkap perusahaan ini baru pada perkembangan awal sehingga belum dikelola dengan baik. Keberadaan persahaan ini menimbulkan polemic antara Mlv. Rahmat Ali HAOT dengan mubaligh-mubaligh markazi lainnya. Hampir semua mubaligh markazi menentang keberadaan Neraca Trading Company. Polemik ini berkisar pada masalah manajemen dan transparansi keuangan Neraca Trading Company. Akibat polemic ini kemudian para mubaligh markazi melakukan komunikasi kepada Hazrat Khalifah II. Kemudian diputuskan oleh Huzur ke II Mlv. Rahmat Ali HAOT ditarik kembali ke pusat. Bapak bercerita bahwa Mlv. Rahmat Ali pernah berkata:” Mereka akan menyesal.” Saya pernah bertanya siapa saja yang menentang Neraca Trading Company. Bapak menjelaskan: “ banyak” Beberapa murid Mlv. Rahmat Ali yang sering diungkapkan membantu beliau dalam penulisan buku yang diterbitkan oleh Neraca Trading Coy antara lain Raden joesoef Ahmadi, A. Bachtiar Martapoera, Raden Boenjamin, Ahmad Satiri, Moh. Yaqin Munier, dan kadang-kadang Abdoerahman, Moertolo, dan Ahmad Soepardja. Untuk dukungan upaya mencari pembiayaannya disebutkan oleh Mlv. Rahmat Ali adalah Soepardja, Joesoef, Djakaria, dan Soedarma. Beberapa nama disebutkan memberi sokongan keuangan dalam penerbitan adalah R. Goemiwa Partakoesoema, Lurah Ata dan Rasyid. Pekerjaan Pencetakan dilakukan oleh Soepardja, Djakaria dan Moh. Jaqin Munier. Nama lain yang disebutkan juga memberikan bantuan adalah Raden Kartaatmadja, Emboen Doellah, Bachroem Rangkuti, M Saleh bin Charis, Soelaiman Hasan Bisri.

5. Kecintaan Murid-murid Mlv. Rahmat Ali HAOT kepada Gurunya.

Dari Rahim Panturu saya mendengar kisah bagaimana kecintaan murid-murid beliau kepada Mlv Rahmat Ali HAOT. Rahim rekan saya itu mendengar cerita ini yang dikisahkan oleh alm Dji An Sulaiman yaitu ayah dari Saleh Dji An dan Siddik Dji An. Menurut Rahim profesi Dji An Sulaiman adalah pemangkas rabut dan Mlv Rahmat Ali senatiasa dipotong rambunya oleh Dji An Sulaeman. Dikisahkan bahwa menjelang kepulangan Mlv Rahmat Ali HAOT ke Rabwah berita itu telah menjadi pembicaraan dikalangan Jemaat. Namun kepastian kepulangan beliau baru diperoleh setelah ada telegram dari Hazrat Khalifatul Masih ke II dari rabwah Pakistan. Dengan adanya kepastian ini salah satu dari murid beliau diataranya Satiri rekan-rekan murid beliau lainnya seperti Djia An, Abdul Rachman, Sulaeman membuat goresan di dinding untuk mengitung hari keberangkatan sang guru yang dicintai.

Pada hari keberangkatan semua murid-murid beliau mengantar guru yang dicintai ke pelabuhan Tg Priok. Mereka mengantar hingga keatas kapal dan semua merasakan sangat berat dan gelisah melepas Mlv Rahmat Ali HAOT yang sangat dicintai para murid-muridnya. Saat pluit tanda keberangkatan berbunyi pun mereka masih belum mau berpisah dengan beliau. Hingga akhirnya pada pluit tanda keberangkatan ketiga dengan perasaan sedih dan haru tak terhingga para murid-murid ini harus turun dari kapal. Mereka terus berdiri memandang kapal yang mulai bergerak menjauh ke tepi ufuk horizon hingga akhirnya mulai hilang dari pandangan mata. Dji An almarhum bercerita pada Rahim Panturu bahwa para murid ini masih belum dapat melepas dan mereka terus berusaha untuk memandang kapal yang membawa sang guru ke tanah airnya. Mereka naik keatas gedung pelabuhan sehingga mereka masih dapat kembali melihat kapal yang ditumpangi guru. Ramai mereka memandang kapal itu sehingga kapal itu kembali menjauh dan menghilang. Setelah itu mereka kembali naik keatas atap gedung yang lebih tinggi sehingga mereka dapat kembali menatap kapal yang menajuh itu sehingga akhirnya hanya dapat terlihat kepulan asap kapal. Pada waktu kapal itu sudah tidak dapat terlihat lagi baru mereka ingin pulang dan tanpa disadari waktu telah menjadi malam.

Dari cerita ini kita dapat mengetahui bagaimana kecintaan para murid beliau kepadanya. Bagi saya cerita ini bukan mengherankan karena Bapak saya R. Boenjamin almarhum sudah terlalu sering menceritakan kecintaannya kepada gurunya yang mulia itu. Saya hingga sekarang masih dapat mengingat rasa duka dan cinta di wajah Bapak apabila bercerita mengenai Mlv Rahmat Ali HAOT.

6. Kemuliaan Jiwa Mlv. Rachmat Ali HAOT

Rahim Panturu menyampaikan kepada saya cerita mengenai pengalaman R. Moertolo SH alm., yang semasa akhir hidupnya menjabat Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan pernah menjabat Jaksa Tinggi dan Jaksa Agung Muda. Cerita ini diceritakan langsung oleh R. Moertolo SH. kepada Rahim Panturu dengan penuh linangan air mata.

R. Moertolo SH bercerita bahwa pada waktu beliau akan mengambil ujian untuk mendapat gelar sarjana hukum Mister in de Rechten, beliau memerlukan biaya yang cukup besar. Dalam keadaan yang mendesak itu beliau datang kepada sang guru Mlv Rachmat Ali HAOT di Mesjid Jl. Balikpapan untuk meminjam uang yang diperlukannya itu. Sang Guru setelah mendengar permintaan muridnya ini meminta untuk menunggu dan beliau masuk kedalam. Setelah lama menunggu akhir Mlv Rachmat Ali HAOT keluar dan menyerahkan uang yang akan dipinjam itu kepada R Moertolo SH.

Setelah menerima uang itu, kemudian R. Moertolo diberitahu bahwa Mlv Rahmat Ali HAOT tadi keluar dari pintu belakang dan pergi ke kawannya seorang bangsa Sheik di Pasar Baru untuk meminjam uang. R. Moertolo SH baru menyadari mengapa beliau menunggu sangat lama sekali dan rupanya Sang Guru telah berusaha menolongnya dan tidak mau memperlihatkan situasinya yang juga tidak memiliki uang kepada muridnya sehingga keluar dari jalan belakang. Pada saat yang sama R. Moertolo juga diberitahu bahwa Sang Guru sebelum bertemu dengan R. Moertolo baru saja mendapat berita dari Pakistan bahwa anak yang dicintainya meninggal dunia. Mlv. Rachmat Ali sangatlah mulia hatinya dan penuh dengan pengorbanan. Dalam keadaan duka hati yang sedih karena kehilangan putra tetapi beliau tetap berupaya untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Menurut Rahim R. Moertolo berkali-kali bercerita hal ini kepadanya dan selalu beliau menyampaikannya dengan penuh linangan air mata. Kita doakan kepada Allah SWT untuk membalas seluruh kebaikan dan amalan Mlv Rachmat Ali HAOT kepada jemaat dan bangsa Indonesia. Amin