Jumat, 17 Agustus 2012

ARIEF RAHMAN HAKIM PAHLAWAN AMPERA


Tulisan ini disusun penulis untuk mempertahankan kenangan terhadap Arief Rahman Hakim - Pahlawan Ampera. Banyak pihak berusaha menghapuskan kematian Arief Rahman Hakim yang telah menjadi martir dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat ini untuk mendapatkan foto Arief Rahman Hakim pun sudah sulit. Penulis mengharapkan tulisan ini dapat menjadi suatu catatan yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam mengungkapkan peristiwa gugurnya Arief Rahman Hakim.

Peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu pada waktu mahasiswa dan pelajar berjuang menumbangkan rejim pemerintah orde lama sudah terlupakan. Nama Arief Rahman Hakim pahlawan Ampera sudah terlupakan. Banyak orang sudah tidak lagi mengenal Arief Rahman Hakim sang Pahlawan Ampera.  Saat gugurnya Arif Rahman Hakim dan beberapa pahlawan Ampera lainnya gugur sudah  terlupakan. Tahun 1965 - 1966 merupakan pada masa ekonomi yang sulit dan kejadian gugurnya Arief Rahman Hakim adalah   pada bulan Januari 1966, manakala inflasi mencapai 650%  dan terjadi pada saat Bung Karno menaikkan harga bensin empat kali lipat menjadi Rp. 1000 per liter. Harga beras semakin tak terkendali padahal Indonesia adalah negara penghasil beras.. Di Jakarta, harga beras yang semula Rp. 800 per kilogram mendadak melonjak menjadi Rp. 5000 per kilogram. Kondisi politik waktu itu sudah semakin rapuh dengan semakin tidak puasnya masyarakat terhadap bertahannya sang Proklamator sebagai Presiden RI setelah kudeta yang gagal pada tanggal 30 September 1965 dan juga dinilai gagal mengendalikan perekonomian.

Sehingga pada tanggal 10 Januari 1966, merupakan puncak atas kesabaran mahasiswa dan masyarakat sehingga mahasiswa meleteuskan aksi demonstrasi di Jakarta, sebagai sikap penentangan terhadap kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI, Retul Kabinet Dwikora dan TurunkanHarga

Tanggal 24 Februari 1966,  Presiden Soekarno bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di Jakarta.  Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Salah satu upaya penolakan itu adalah berupa unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta, melainkan dari mana-mana. Mereka sudah sejak subuh berbondong-bondong dan bergerombol-gerombol menuju lapangan Gambir atau Monas. Jaket warna warni yang memberikan gambaran puluhan universitas terwakili, kian lama kian ramai dan dinamis.  Warna kuning, merah, hijau, biru, orange, dan hijau memenuhi lapangan yang luasnya sekitar ratusan hektar itu. Mahasiswa dan pelajar  melakukan aksi memacetkan lalu lintas. Ban mobil-mobil dikempeskan sehingga menteri-menteri  yang akan dilantik terhambat ke istana.

Pagi itu Arief Rahman Hakim bersama-sama ribuan  demonstran mahasiswa dan pelajar   telah berada di mulut Jalan Veteran 3 atau atau dulu  di sebut jalan segara tepatnya  jalan yang menghubungkan Jalan Merdeka Utara dengan Jalan Veteran.  Di  jalan Veteran 3  ini terletak Markas Resimen Cakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Sebagaimana lazimnya demonstrasi mahasiswa, mereka berteriak-teriak dan Arief Rahman Hakim lebih banyak diam dan mengamati tingkah laku rekan-rekan demonstran yang lain.  Teriakan para demonstran  kadang-kadang disertai kata-kata ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi yang menjadi sasaran. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas berjaga-jaga tepat di seberang jalan, tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan para demonstran. Mereka mulai mengancamkan senjata mereka kepada para demonstran. Acaman ini tidak menakutkan mereka dan ejekan serta yel-yel terus dilontarkan. Karena tidak tahan tekanan maka beberapa anggota Pasukan Cakrabirawa melakukan peringatan tembakan keatas. Keadaan ini membuat mahasiswa panik dan sebagian malah lebih menekan Pasukan Cakrabirawa sehingga beberapa dari antara anggota Pasukan Cakrabirawa mulai melakukan rentetan tembakan kearah para demonstran. Hal ini membuat para mahasiswa semakin kacau dan panik. Para demonstran panik berlarian sambil berteriak menyerukan Allahu Akbar sambung menyambung. Pada waktu itulah Arief Rahman Hakim tertembak rentetan  peluru pasukan  Cakrabirawa secara brutal sehingga roboh berlumuran darah. Segera setalah kejadian itu para demonstran dan rekan-rekan mahasiswanya belum berani menolongnya. Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan mahasiswanya  berani beranjak dan melakukan evakuasi tubuh Arief Rahman Hakim  mengerang terkulai dengan Jaket Kuning  bersimbah darah. Dalam perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.

  
Hari Jumat 25 Februari 1966, ribuan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P Kebayoran Baru. Jenazah Arief Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI di Salemba  menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dengan iringan mahasiswa dan pelajar yang mengantarkannya. Meninggalnya Arief Rahman Hakim sebagai martir perjuangan mahasiswa  bersama seorang pelajar yang bernama Zubaedah  membuat demonstrasi semakin panas. Mahasiswa dan pelajar dari seluruh pelosok Indonesia bergabung dan melakukan aksi demonstrasi mahasiswa untuk menuntut pembubaran PKI dan turunnya Bung Karno. Jaket Kuning yang bersimbah darah Arief Rahman Hakim dijadikan bendera Pataka simbol perjuangan dengan diarak bergerak keliling Jakarta Pusat  untuk membangkitkan semangat rakyat menurunkan Orde Lama. 

Demonsterasi mahasiswa pada hari itu telah memberi tekanan kepada Soekarno.  Tekanan yang terjadi berhasil membuat Soeharto memaksa Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang dikenal juga dengan Super Semar dan menjadi senjata untuk menjatuhkan bung Karno. Super Semar telah dijadikan legitimasi oleh Soeharto atas nama Presiden untuk membubarkan PKI dan melarang seluruh kegiatan PKI dan ormasnya sebagai partai terlarang untuk melakukan kegiatan di seluruh Indonesia.

Gugurnya Arief Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai tumbal perjuangan untuk menurunkan rejim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kematian Arief Rahman Hakim telah menjadikannya sebagai martir dan  simbol perjuangan bagi Angkatan Pemuda 66. Nurcholis Majid, waktu itu masih sebagai mahasiswa IAIN berseru dalam khotbah melepas jenazah Arif Rahman Hakim  bahwa “Teladan yang syahid ini membuat kita semakin teguh melanjutkan perjuangan.”

Arief Rahman Hakim dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan nama Ataur Rahman.. Kedua orang tua kandungnya adalah Haji Syair dan Hakimah yang merupakan pengikut taat dari sekte Islam Ahmadiyah. Pada th. 1958, Arief Rahman Hakim berhasil tamat SMP dan pindah ke Jakarta tepatnya di bilangan daerah Tanah Tinggi untuk meneruskan pelajarannya di SMA. Setelah lulus SMA, pemuda  Arief Rahman Hakim berhasil diterima masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arief Rahman Hakim adalah seorang pemuda yang riang dan sangat senang aktif dalam melakukan kegiatan organisasi kemahasiswaan dan agama.  Selain itu,  Arief Rahman Hakim juga dikenal sebagai pemuda yang pandai bergaul dan rendah hati serta senang bekerja untuk kepentingan kegiatan organisasi pemuda.

Di Jakarta, Arief Rahman Hakim sangat dekat dengan pamannya  Tn Guru  Ahmad Nurudin yang menjadi mubaligh Ahmadiyah di Lombok. Pengaruh ajaran pamannya ini sangat kuat pada dirinya yang menanamkan perlunya berkhidmat kepada bangsa, agama dan sesama manusia. Arief Rahman Hakim tidak memperdulikan pandangan bahwa Ahmadiyah dinilai oleh sebagian besar umat Islam tidak mengikuti ajaran Islam yang murni. Malah ia meyakini bahwa paham Ahmadiyah merupakan suatu pemurnian kembali kepada ajaran Islam. Hal ini telah mendorong pemuda Arief Rahman Hakim menjadi aktivis pemuda Ahmadiyah dan bergabung pada organisasi Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI)  Jakarta. Di Jakarta ia sangat aktif mengikuti kegiatan Khudamul Ahmadiyah sehingga dia akhirnya dipercaya menjadi pengurus MKAI Jakarta sebagai  Sekretaris bidang Keolahragaan.

Kegiatannya sebagai pemuda dan pengurus Khudamul Ahmadiyah Jakarta dapat dikatakan sangat aktif. Banyak hal yang dilakukannya untuk mengaktifkan kegiatan para pemuda. Dia tidak pernah lelah untuk menyelenggarakan pertandingan olah raga seperti bulutangkis, sepak bola, tenis meja dan bola volley. Untuk keperluan penyelenggaraan ini dengan penuh semangat Arief Rahman Hakim mengupayakan penyediaan dan peminjaman lapangan olah raga  serta pengadaan meja tennis meja. Namun demikian, sebagai seorang pemuda Ahmadiyah,  Arief Rahman Hakim juga belajar mendalami agama Islam dan rajin mengikuti kegiatan sholat dan ceramah di Mesjid Ahmadiyah. 

Pandangan ideologi pemuda Arief Rahman Hakim belum terbentuk mendalam.  Belum banyak yang mengetahui bahwa Arief Rahman Hakim dalam pergaulannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah merasakan adanya kebimbangan pada dirinya untuk memilih Organisasi Himpunan Islam (HMI) atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kebimbangannya ini pernah disampaikannya kepada seniornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tergabung di HMI. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya termasuk diantaranya adalah posisinya sebagai pengikut Ahmadiyah dan ketertarikannya pada kegiatan mahasiswa GMNI.  Sebelum Arief Rahman Hakim meninggal sesungguhnya ia hampir memutuskan untuk masuk dalam organisasi GMNI namun hal belum sempat dilakukannya karena harus gugur pada tanggal 24 Februari 1965. Tentunya hal ini sangat ironis karena kemudian para mahasiswa dan pemuda  Angkatan Pemuda 66 ini harus berhadapan dan bentrok dengan Gerakan Pemuda Marhaen yang mendukung Sukarno.

Arief Rahman Hakim berdasarkan ketetapan MPRS No. XXIX/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 ditetapkan secara menyeluruh sebagai Pahlawan Ampera. Walaupun ketetapan MPRS tersebut tidak secara tegas menyebutkan Arief Rahman Hakim adalah pahlawan Ampera  tetapi bunyi ketetapan MPRS tersebut dimaksudkan untuk menetapkan setiap korban perjuangan menegakkan dan melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat adalah Pahlawan Ampera. Ketetapan MPRS nampak tidak berani menyebutkan nama-nama pahlawan Ampera dan juga tidak tegas memerintahkan kepada Pemerintah untuk menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan Ampera. Beberapa pahlawan ampera gugur menjadi martir oleh pasukan rejim Orde Lama tapi beberapa lainnya juga oleh pasukan dan atas perintah rejim yang baru yaitu Orde baru. Tampaknya negara dan para politisi cenderung tidak ingin menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan ampera namun para penyelenggara kekuasaan menikmati perubahan yang dihasilkan oleh para martir dan tumbal perubahan.

Sulit dipahami tokoh politik dan paranormal  Permadi  dengan naif mengatakan bahwa tokoh Arief Rahman Hakim adalah  tokoh fiktif. Sejarah sudah tidak dapat dipungkiri oleh kita semua bahwa Arief Arief Rahman Hakim adalah martir dan simbol perjuangan untuk merobohkan rejim orde lama. Sejarah juga sudah mencatat bahwa Universitas Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mencantumkan nama Arif Rahman Hakim sebagai sarjana kedokteran anumerta  dan sejarah menyaksikan serta mencatat dalam buku-buku pelepasan jenazah Arief Rahman Hakim pada tanggal 25 Februari 1966 dari Aula UI Salemba. Rakyat indonesia menyaksikan iring-iringan Jaket Kuning Berdarah pada tanggal 24 dan 25 Februari 1966 sehingga akan sangat naif kalau seorang Permadi mengatakan Arief Rahman Hakim adalah tokoh fiktif. Namun sejarah juga mencatat bahwa Permadi adalah tokoh GMNI dan seorang marhaenis pemuja Soekarno. Hal ini menjadi tampak logis karena sejarah juga mencatat upaya para pendukung Soekarno untuk meredam aksi Angkatan Pemuda 66 pada waktu itu. Tapi pernyataan Permadi menjadi ironis kembali karena Arief Rahman Hakim yang dikatakannya sebagai tokoh fiktif sebenarnya juga simpatisan dari GMNI dan hampir menjadi anggota GMNI apabila tidak gugur.

Sabtu, 13 Maret 2010

GREAT LEADER IN INDONESIA

We have to be proud to some great leader that had built us great heritage building and infrastructure. Sailendra had built us a Borobudur and proved that we had great architect like Gunadharma. We have to be jealous to Daendels who stayed in Jawa for only three years had left us a thousand kilometers road Anyer – Panarukan. We have to know without his idea to build that road Jawa Island would not have the long road and jalan Slamet Riadi in Solo would become the longest road in Java. Raffles had inherited us a beautiful Bogor Palace and Botanical Garden in Bogor. Without Raffles Bogor would become nothing and has no interesting place to visit.


Soekarno, was our President and he is a great leader. He built us many buildings and he was scolded by short sighted people as wasting the national resources just to build glamorous projects. But he left us great Monument National, Istiqlal Mosque, Jatiluhur Dam, Senayan Sport Center, a beautiful Hotel Indonesia, Soekarno Hatta airport, Trans Sumatra Highways, Taman Impian Jaya Ancol and etc. When Soekarno build Istiqlal, he said that he wanted to build a mosque just like Borobudur which might last for thousand years! And like Sailendra had Gunadharma then Soekarno had Silaban as his architect. And the most important he wanted to build national character for Indonesian.

Ibu Tien Suharto was a great first lady too…why? She was a lady with great dreams and was also scolded by people when she built the projects. Tien Soeharto had build Taman Mini Indonesia Indah and some other project like Taman Bunga in Jakarta. What is the good of Taman Mini and Taman Bunga? That gardens have always become the great place to visit for millions Indonesian people. As for her grave she built also a famous graveyard up in the hill which called Astana - Mangadeg Gribangun Matesih – Solo. Thousand people still visit that graveyard every day. One should know how we could have a green Jagorawi highway. It was Tien Soeharto who ordered Jasa Marga to plant threes all along both side the highway. Thank to bu Tien Soeharto.

How is Soeharto? Is he a great Leader? In some way yes….at least he built many dams for the people and could stay in his position for 32 years. But he had no vision for Indonesian people and what he thought was only power.

Habibie is not great leader and nothing much we could remember from him except IPTN. Gus Dur he is surely not great leader but he is greatman and minority owed him something. Megawati she is only Soekarno’s daughter and she left us nothing …………….as to President SBY, we are waiting something from you….please do something for us.







Minggu, 15 November 2009

MANUNGGALING KAWULA GUSTI : PERTEMUAN DENGAN SYEKH SITI JENAR

Seperti biasa kalau ke Solo saya senang makan di warung-warung kecil yang makanannya enak dan menurut saya suasananya nyaman sekali. Pada malam itu setelah makan nasi liwet di daerah Keprabon saya menyempatkan diri singgah di warung wedang ronde di sudut jalan daerah Keprabon. Malam itu mungkin jam sudah menunjukan pukul 23.30 namun di daerah itu masih banyak orang yang jalan di sekitar jalan Slamet Riyadi. Saya datang ke warung itu sendirian dan memilih tempat di paling sudut warung wedang ronde itu. Tempat saya duduk tidak ada orang lain kecuali di meja seberang hanya ada sepasang muda mudi yang sedang menikmati suasana malam dengan menikmati minuman khas kota Solo itu. Entah mengapa malam itu suasana pikiran saya kosong dan seperti ingin menikmati suasana kesendirian.

Tanpa saya sadari sewaktu saya menoleh kesebelah kanan ternyata duduk disebelah saya ada seorang laki-laki separuh baya dengan pakaian sorjan lengkap dengan blangkon kuno khas Jawa jaman dahulu. Lelaki itu duduk dengan kepala menunduk dan dari samping saya dapat melihat separuh wajahnya yang menunjukkan keteduhan dan kedamaian hatinya. Saat itu saya merasakan adanya suasana sepi dan keheningan malam kota Solo yang menurut saya sangat sepi sekali sehingga suara jangkrik pun dapat terdengar. Suara kendaraan pun sudah tidak lagi terdengar kecuali gemeretak bara tungku api pedagang wedang ronde. Sewaktu saya melihat meja seberang saya masih melihat kedua muda-mudi itu namun nampaknya mereka pun sedang laruh pada suasana kediaman malam itu. Tiba-tiba saya mendengar laki-laki di sebelah saya menyapa dengan logat jawa yang kental: "Ki sanak dari mana? Tampaknya ki sanak bukan orang sini ?" Mendengar sapaan yang halus itu hati saya mendorong untuk ingin bertegur sapa dengan orang berpakaian Jawa itu : "betul pak, saya dari Jakarta dan sedang ada keperluan di kota Solo ini. Apakah bapak orang Solo?" Lelaki itu kemudian menoleh dan menatap pada saya dengan matanya yang tajam, namun kemudian saya menyadari bahwa sorot mata lelaki itu memberikan suatu keteduhan dan menunjukan sorot seorang bijaksana yang telah mengenyam pahit getirnya kehidupan dunia. "Tidak ki sanak, saya dulu tinggal di daerah pantai Parang Teritis, tetapi itu hanya singkat sekali." Laki-lagi itu kemudian menghela nafas seperti terkenang pada sesuatu namun kemudian dia melanjutkan:" Saya belum pernah ke Jakarta, saya dengar sekarang kota itu sudah sangat berubah ya?" Laki-laki itu kemudian diam dan kembali menunduk sambil meletakkan kedua tangannya diatas meja. Saya kemudian menegur laki-laki itu: " Apakah bapak ingin wedang ronde? " Laki-laki itu tetap diam sehingga saya memutuskan untuk memesan wedang ronde segelas untuknya. Kemudian ia dengan suara lirih berbisik pada saya: " Dulu pada waktu saya hidup disini, minuman ini memang merupakan kegemaran saya." Saya segera menyahut : " Kalau boleh tahu bapak sekarang tinggal dimana? " Laki-laki itu tersenyum dan kemudian menjawab :" Ki sanak tidak perlu tahu sekarang, karena nanti juga tahu. Tempat kita tinggal sekarang hanyalah sebuah ilusi yang tidak langgeng dan tidak ada artinya dibandingkan dengan tempat kita tinggal nanti." Saya segera sadar bahwa laki-laki ini ingin membawa pembicaraan kepada pembicaraan yang lebih bermakna. "Maksud bapak apa?" saya menyambung perkataanya. "Ki sanak kita hidup hanya sementara, hidup kita harus dipenuhi dengan upaya pendekatan dan pencarian kepada Sang Pencipta." Tukasnya. Sambil menyeruput wedang ronde panas, saya menyambut pernyataannya :" Mengapa demikian pak?" Laki-laki itu menatap saya seolah-olah ingin meyakinkan apakah saya tulus ingin mendengarkannya. Tetapi kemudian laki-lagi itu berkata:" Tubuh lahiriah kita ini hanya bangkai yang tiada ada artinya. Gusti Allah SWT telah memberikan kita jiwa bagi tubuh kita namun manusia seringkali tidak mengetahui bahwa jiwanya perlu diberikan makanan yang baik agar jiwa kita sehat sehingga dapat menikmati kehidupan dialam yang akan datang. Kita sering merasa diri kita hebat, gagah padahal hal itu tidak benar. Manusia itu lemah dan tidak ada artinya karena pada dasarnya manusia itu disisi Yang Maha Kuasa tidak lain hanyalah debu yang tiada artinya. Selama manusia merasa dirinya itu hebat maka dia tidak akan dapat menemukan Sang Pencipta." Lalu saya merasa hati menjadi sangat tertarik dengan pemikirannya dan menyahut:" Apakah itu yang dimaksud dengan manunggaling kawula gusti, ya pak? Tiba-tiba laki-laki itu tersenyum dan pandangannya kembali seperti mengenang sesuatu, kemudian dia menyahut: "Manunggaling kawula gusti adalah suatu proses yang memerlukan waktu dan upaya dari manusia untuk mencari hakikat dirinya sendiri. Tetapi ki sanak benar sekali."


Saya jadi teringat pada Syekh Siti Jenar yang akhir hidupnya tragis harus mati di tangan Sunan Kalijago. Kemudian saya bertanya:" Apakah bapak pernah mendengar nama Syekh Siti Jenar?" Laki-laki itu tiba-tiba tersentak dan terdiam. Kemudian laki-laki itu seperti menerawang dan setelah lama berfikir dia berkata : " Ki Sanak, apa yang di alami orang itu adalah akibat perbuatan dan kesombongan dirinya sendiri. Saya tidak menyalahkan Sunan Gunung Jati ataupun Sunan Kalijago, apalagi Sultan karena pada dasarnya dia sendri telah melakukan kesalahan. Setiap manusia akan melalui tahapan pada tingkatan akhlaknya." Wah..saya mulai merasakan laki-laki itu mulai menerawangkan pikirannya sendiri. Tapi kemudian dia melanjutkan :" Manakala manusia masih pada tahapan nafsi lawamah dia kadang-kadang masih akan melakukan kesalahan dan kesombongan. Syekh Siti Jenar juga melakukan kesalahan dalam menghadapi Sunan Kalijaga. Penyatuan diri manusia pada Sang Khalik hanya dapat terjadi pada saat pikiran dan perbuatan telah konsisten pada penyerahan dirinya dan melupakan segenap hawa nafsu duniawi. Tanpa penyerahan diri yang mutlak maka manunggaling kawula Gusti tidak akan langgeng."

Saya tambah bingung pada perkataan laki-laki itu namun seperti membaca pikiran saya dia melanjutkan: "Manusia tidak cukup hanya berbuat baik untuk dapat menemukan Tuhannya, kerbau adalah makhluk Tuhan yang tidak pernah berbuat kesalahan dan selalu baik tapi kerbau tidak akan masuk surge ki Sanak. Untuk dapat menemukan Sang Pencipta, manusia harus melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada alam, kepada semua makhluk dan kepada sesame manusia. " Lalu saya menyahut: " Apakah itu saja pak? Laki-laki itu menjawab :" Belum ki sanak. Untuk bisa menyatukan diri dengan sang Pencipta manusia harus mengenali sang Khalik secara benar dan percoyo secara hakiki. Tanpa itu ndak mungkin" Apalagi pikir saya dalam hati, tapi laki-laki itu sudah meneruskan: "Kita harus eling…eling……untuk mengingat dan mendapatkan gambaran mengenai kejuitaan dan keindahan yang sempurna dari sang Pencipta. Manusia harus mengenal kebaikan dan sifat-sifat Gusti Allah. Manusia harus terus meminta dan doa pada Gusti Allah supaya diberkahi untuk mendapatkan jalan untuk menyatukan diri " Dan kemudian dia diam dengan kepala tunduk dan melanjutkan dengan dengan suara berbisik: "Ki sanak, buat apa sholat 5 waktu, puasa, bayar zakat, pergi haji kalau sampeyan masih makan riba, berkata ghibat, main perempuan, korupsi, menyembah manusia, membenci sesama makhluk dan tidak menjalankan perintah sang Pencipta. Apakah sampeyan perlu mendapatkan pengakuan manusia bahwa sampeyan manusia alim padahal kelakuan sampeyan tidak berbeda dengan perbuatan khewan? Itu namanya kepalsuan ki sanak atau munafik namanya. Tanpa penyerahan diri dan upaya perbaikan akhlak yang kuat dan terus menerus secara istikomah, manusia akan hidup percuma dan akan gagal untuk melakukan penyatuan diri dengan sang Khaliknya."

Lamat-lamat azan subuh mulai terdengar dan makin lama makin diikuti dengan azan dari mushola-mushola disekitar warung wedang ronde itu. Tiba-tiba saya tersentak oleh suara gelas-gelas beradu warung ronde karena ternyata pemilik warung sudah berkemas untuk mengakhiri jualannya. Sewaktu saya menoleh kepada lelaki berpakaian jawa itu, ternyata dia sudah tidak ada disebelah saya. "Bu bapak yang duduk disebelah saya mana? Tanya saya pada si ibu pedagan wedang ronde. Ibu itu tampak heran dan mulai memandang saya dengan aneh : " Bapak lihat siapa, ya? Dari tadi bapak kan hanya sendiri saja." Saya baru tersadar bahwa malam itu saya telah bertemu dengan orang itu lagi. Dalam benak pikiran saya terpaku bahwa orang yang jumpai malam itu adalah Syekh Siti Jenar. (Los Angeles – 08.11.20009)

Jumat, 30 Oktober 2009

GEDUNG TYPICAL - ARSEK




Gedung Typical-Arsek Bank Indonesia  yang merupakan gedung pertama dibangun sesuai masterplan kompleks perkantoran Bank Indonesia dirancang oleh arsitek senior Zainuddin Kartadiwiria pada tahun 1982 dan selesai dibangun pada tahun 1984 . Banyak orang tidak memahami kehebatan dan keindahan arsitektur gedung Typical – Arsek sehingga dengan mudah mengecam dan menilai gedung ini sebagai gedung yang tidak bagus. Salah satu ejekan kepada gedung Typical – Arsek yang dahulu pernah terkenal adalah "Gedung WC terbesar di Indonesia. " Namun banyak ahli bangunan dan arsitek senior di Indonesia sebaliknya memuji gedung ini sebagai gedung yang indah dan mengatakan gedung ini merupakan contoh arsitektur gedung yang baik. Gedung ini dinilai sebagai gedung yang bagus dan indah karena arsitektur gedung ini dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip dasar arsitektur yang benar. Aspek fungsional dari setiap rancangan dan bagian dari bangunan gedung ini sangat diperhatikan oleh perancangnya sehingga tidak ada bagian dari gedung ini yang tidak dapat dijelaskan manfaatnya. Suatu hal yang mencengangkan adalah konsep green architecture juga sudah merasuki rancangan gedung ini. Sesuai namanya gedung ini dalam masterplan pembangunan gedung Bank Indonesia dimaksudkan untk menjadi typical atau prototype gedung di kompleks perkantoran Bank Indonesia. Sayangnya pemikiran untuk menjadikan gedung ini sebagai typical gedung Bank Indonesia tidak berlanjut. Pembangunan gedung-gedung Bank Indonesia di kompleks perkantoran ini tidak lagi mengikuti rancangan masterplan tersebut.



Gedung Typical dibangun dengan suatu rancangan yang indah sekali dan banyak ahli arsitektur menilai gedung ini mengambil pola dari gedung Herbert F Johnson Museum of Art di Cornell University yang dirrancang oleh I.M. Pei dan John L Sulivan III. Namun rancangan gedung Typical yang terdiri dari 15 lantai itu berbeda dengan gedung Museum of Art Cornell University . Gaya gedung ini juga tampak dari beberapa gedung bank sentral di dunia. Kita ambil contoh misalnya tampak luar gedung Monetary Authority of Singapore juga hampir serupa dengan gedung Typical Arsek. Demikian pula beberapa bangunan gedung Bank Negara Malaysia di Kuala Lumpur memiliki tampak luar yang senada dengan gedung Typical Arsek. Interior gedung Typical Arsek untuk ukuran masa kini akan dikatakan sederhana namun sangat praktikal. Penyekat dan plafond ruang di gedung typical dirancang agar setiap partisi lepasnya  dapat disesuaikan dengan mudah untuk mengikuti kebutuhan ruangan. Suatu hal yang mencengangkan dari gedung ini adalah konsep green building telah diterapkan pada gedung ini. Rancangan gedung ini dibuat sedemikian rupa sehingga hemat energi dan sangat memperhatikan aspek cahaya matahari. Gedung ini sudah melakukan proses air limbah dengan menggunakan Sewage Treatment Processor sehingga air limbah dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman. Efficiency lain yang termasuk dalam gedung ini adalah penyediaan alat "tele transporter" yaitu alat pengiriman dokumen antar gedung dan antar lantai. Alat ini memungkinkan terjadinya efisiensi energi listrik dan penggunaan tenaga kerja.


 Design yang menarik dari gedung Typical Arsek adalah mewujudkan keinginan arsiteknya untuk menjadikan gedung ini sebagai gedung yang hemat energi. Sun shading atau penahan cahaya matahari gedung yang terbuat dari beton concrete dirancang sangat efektif dalam menahan panasnya sinar matahari sehingga kebutuhan energy untuk pendingin relative rendah meskipun biaya pembuatan awalnya relatif mahal. Material yang digunakan pada bangunan ini dari semula dipikirkan agar biaya pemeliharaan gedung ini sangat murah. Façade atau kulit luar gedung Typical – Arsek menggunakan bahan keramik dalam negeri sehingga pembersihan tidak perlu dilakukan. Selain itu, keramik yang digunakan juga adalah keramik dalam negeri yang dapat dikatakan sangat murah. Penggunaan keramik inilah yang membuat banyak pihak mengecam gedung ini sebagai toilet terbesar padahal justru disinilah letak daya kekuatan kharakter gedung ini. Kekuatan kharakter ini dapat membuat gedung ini menjadi bangunan "archeology for the future" sebagaimana harapan seorang arsitek senior Eko Budiardjo untuk gedung-gedung Bank Indonesia.

Hingga saat ini masih terdapat rencana untuk mengubah material keramik façade kedua gedung ini menjadi bahan lain yang lebih modern seperti aluminium kleiding. Pernah pula ada pemikiran bahan façade diganti dengan granit namun dengan pertimbangan harga dan bahaya gempa yang terjadi terus menerus ditahun 2009 keinginan ini tidak lagi dipertimbangkan. Gedung Arsek yang merupakan gedung berlantai 6 dengan letak di sebelah gedung Typical dirancang untuk gedung Arsip dan Ekspedisi Bank Indonesia serta untuk kegiatan kliring perbankan. Sesuai dengan maksud penggunaannya maka pada gedung ini terdapat beberapa lantai ruangan yang dibuat dengan bahan concrete dan interior tahan api dan pada beberapa lantai tidak terdapat jendela atau dengan jendela yang sangat terbatas. Karena semula dirancang untuk kegiatan kliring perbankan maka pada lantai 2 gedung Typical Arsek terdapat menzanine yang indah serta antara mezzanine kedua gedung ini terdapat jembatan penghubung. Design mezanine pada gedung Typical Arsek memberikan kekuatan karakter pada kedua gedung ini. Struktur bangunan diekspose dengan secara terbuka sehingga setiap orang dapat memperhatikan keindahan rancangan bangunan ini sekaligus mengetahui bagaimana kekuatan bangunan ini. Dari ekspose bangunan ini kita juga dapat melihat ketelitian dan kerumitan rancangan yang dilakukan oleh arsiteknya tanpa mengabaikan aspek fungsional dari masing-masing detail keindahan detail yang ditampilkan.


Saat ini sudah ada rancangan untuk melakukan pengubahan facade dan interior gedung Typical-Arsek. Alasan untuk pengubahan ini adalah untuk menyamakan design, irama dan warna antara gedung ini dengan gedung A, B, C dan D serta alasan gedung ini sudah lama sehingga perlu direnovasi. Untuk alasan security dan penyatuan lobby antara gedung Typical Arsek ini pernah ada rencana untuk menghilangkan jembatan penghubung kedua gedung ini. Adanya berbagai pertimbangan antara lain tekanan pandangan publik terhadap Bank Indonesia yang masih terus berlangsung serta berkembangnya kesadaran bahwa rancangan gedung Typical-Arsek perlu dilestarikan telah menyebabkan pelaksanaan pengubahan facade dan penyatuan lobby gedung belum dilaksanakan. Pelestarian gedung Typical-Arsek ini merupakan issue yang masih harus diperkuat hingga pengubahan tidak perlu dilakukan.



Sabtu, 29 Agustus 2009

PERANG BUBAT (1357): DIPLOMASI PERNIKAHAN PUTRI PAJAJARAN-DYAH PITALOKA DGN RAJA MAJAPAHIT - HAYAM WURUK



Sejarah telah memperlihatkan adanya pengakuan tersirat dari kerajaan Galuh - Pajajaran terhadap kekuasaan Majapahit. Pengakuan ini terlihat dari kesediaan Raja Galuh - Pajajaran mengirim putrinya Dyah Pitaloka untuk dinikahkan kepada Raja Majapahit Hayam Wuruk. Raja Pajajaran bukanlah raja yang lugu sehingga bersedia mengirim Dyah Pitaloka ke Majapahit melainkan ia paham sekali akan pentingnya diplomasi perdamaian yang ditawarkan oleh Patih Gajah Mada. Pernikahan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk bagi Pajajaran merupakan solusi terbaik untuk menghambat ambisi Gajah Mada menguasai Galuh - Pajajaran. Pelaksanaan teknis solusi ini sebenarnya ditentang oleh Pangeran Banisora – paman Dyah Pitaloka. Banisora berpendapat seharusnya Hayam Wuruk datang untuk menjemput Dyah Pitaloka ke Galuh, Ciamis. Namun keberatan dari Banisora diabaikan oleh Raja Galuh Linggabuana, karena ia menyadari konsekuensi untuk penolakan terhadap kelangsungan eksistensi Pajajaran. Raja Galuh Linggabuana mencoba meyakinkan para pengikutnya akan adanya perbedaan budaya antara Majapahit dan budaya di Pasundan. Adalah hal biasa untuk bangsa lain yang lebih besar kekuasaanya meminta pihak wanita mengantarkan putrinya kepada mempelai pria walaupun argumentasi ini tidak sesuai bagi adat di Pajajaran dan keluarga bangsawan. Namun konsekuensi politik adalah diatas segalanya dan berbagai keraguan harus dihapuskan demi kepentingan negara.

Gajah Mada adalah Mahapatih dengan ambisi yang besar untuk menguasai seluruh daerah Nusantara. Dengan sumpah Amukti Palapa –nya yang terkenal hanyalah daerah Pasundan yang belum bisa dikuasainya. Pajajaran merupakan daerah pegunungan yang sangat sulit ditembus oleh pasukan majapahit yang lebih terbiasa menguasai daerah-daerah pesisir. Kerajaan-kerajaan Pajajaran hampir seluruhnya berada di daerah hutan pegunungan yang lebat dan basah. Ketertarikan Hayam Wuruk untuk menikah dengan Putri Galuh – Pajajaran merupakan solusi untuk menuntaskan sumpah Amukti Palapa, melengkapi seluruh daerah kekuasaannya di tanah Jawa. Diplomasi ini menurut Gajah Mada tetap harus mengandung unsur hierarkhi protokoler yang harus diikuti. Karena itu Gajah Mada menuntut agar Dyah Pitaloka dihantarkan ke Kerajaan Majapahit.

Syahdan berangkatlah Putri Dyah Pitaloka, putri Raja Galuh – Pajajaran yang cantik dan cerdas dengan diantar dan dikawal oleh sekelompok pasukan kecil yang dipimpin oleh Pangeran Banisora. Pangeran ini justru diserahkan tanggung jawab oleh Raja Pajajaran untuk mengantarkan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit dengan alasan hanya Pangeran Banisora lah yang dapat dipercaya menjaga citra dan harkat bangsa Pasundan. Perjalanan dari daerah Galuh disekitar Ciamis ke Majapahit bukanlah perjalanan yang mudah. Putri Dyah Pitaloka dikisahkan senantiasa murung dalam perjalanan dan mengalami berbagai mimpi buruk. Dalam berbagai kidung sunda senantiasa putri Dyah Pitaloka senantiasa dinasehati dan diteguhkan hatinya oleh kiai Lengser orang tua yang setia mengasuh putri Raja Galuh yang maha cantik itu. Setelah melalui berbagai rintangan yang berat yaitu, hutan, gunung, sungai dan berbagai daerah yang kurang bersahabat di wilayah Jawa akhirnya sampailah mereka di Tegal Bubat, perbatasan kerajaan Majapahit.

Sangat tidak berlebihan apabila Pangeran Banisora mengirim seorang utusan untuk meminta pihak Majapahit menjemput Putri Dyah Pitaloka yang telah tiba di perbatasan wilayah Majapahit. Disinilah sejarah mencatat awal muawal dan sebab musabab bencana terjadi. Permintaan ini dianggap oleh Gajah Mada tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya yaitu putri harus diantar kepada pihak keluarga kerajaan Majapahit. Bagi Hayam Wuruk yang telah tertarik pada cerita mengenai kecantikan Dyah Pitaloka, permintaan pihak mempelai wanita bukanlah suatu hal yang memberatkan. Namun kekerasan hati dari Mahapatih Gajah Mada yang ingin tetap memasukkan ambisinya untuk memastikan kenyataan Pajajaran dibawah Majapahit mengharuskan Dyah Pitaloka menjadi upeti yang harus disampaikan kepada Hayam Wuruk. Sejarah mencatat sikap Gajah Mada tidak diresturi oleh Hayam Wuruk, namun Gajah Mada tetap pada keputusannya bahwa protokoler harus tetap dijaga demi kewibawaan Majapahit. Akibatnya adalah sangat fatal, keharusan Pajajaran menyerahkan Dyah Pitaloka ditolak oleh Pangeran Banisora sehingga menimbulkan perselisihan yang puncaknya adalah pembataian habis seluruh pasukan pengawal Putri Pajajaran di Tegal Bubat oleh Pasukan Majapahit. Pada puncaknya Pangeran Banisora pun harus gugur dan pilihan bagi Dyah Pitaloka hanyalah menjadi budak hina pampasan perang Majapahit atau mati terhormat sebagai Putri Galuh – Pajajaran. Dyah Pitaloka ternyata mengambil pilihan yang terakhir dan putri ini mengambil sebilah kujang kecil yaitu senjata tradisonal wanita di pasundan untuk dibenamkan kedalam hulu hatinya. Putri Pajajaran telah menyelesaikan tugas yang dibebankan oleh ayahanda Raja Galuh padanya untuk tetap mempertahankan kehormatan Pajajaran. Keputusan Dyah Pitaloka telah mempertahankan harkat derajat wanita sunda  dari ancaman upaya merendahkan derajat mereka dijadikan budak oleh Majapahit. Misi yang harus dilaksanakanya selesai lah sudah dan keagungannya akan terus dikenang oleh para wanita pasundan secara turun temurun. Kenyataan sejarah mengatakan pengorbanan Dyah Pitaloka tidak sia-sia karena kematiannya berhasil mematikan ambisi Gajah Mada untuk menguasai tanah Pasundan. (catatan : beberapa penulisan cerita sunda mengatakan bahwa rombongan Galuh dipimpin oleh Raja Galuh sendiri, yaitu Prabu Wangi yang kemudian juga gugur di Bubat. Namun versi ini masih sulit untuk diyakini karena versi lain mengungkapkan cerita yang berbeda )

Alkisah, Hayam Wuruk kemudian sangat menyesalkan terjadinya Perang Bubat dan gagalnya pernikahannya dengan Putri Pajajaran. Kesalahan dan kekecewaan ini ditimpakan oleh Hayam Wuruk kepada Gajah Mada. Apapun alasan yang dijelaskan oleh Gajah Mada tidak dapat diterima oleh Hayam Wuruk karena Raja ini berpendapat penyelesaian suatu konflik tidak harus selalu dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Gajah Mada adalah seorang prajurit sejati yang akhirnya harus mengalami kekecewaan luar biasa akibat kekeliruannya dalam melakukan kebijaksanaan politik Majapahit.  Beberapa penulis menyatakan Gajah Mada tidak lagi diikutkan dalam pengambilan keputusan politik oleh Hayam Wuruk. Namun demikian sejarah juga tidak pernah menyatakan Gajah Mada mengundurkan diri tapi sejarah memperlihatkan terjadinya penurunan semangat Sang Mahapatih dalam berperan memperluas daerah kekuasaan Majapahit di Nusantara.

Rabu, 29 Juli 2009

SUFISM DAN SYECH SITI JENAR


Pandangan mayarakat umum  di Jawa terhadap Syech Siti Jenar telah berubah seratus persen. Hampir sebagian besar intelektual Islam sudah dapat menerima pandangan dan membenarkan paham Syech Siti Jenar yang dulunya dianggap sesat dan menyesatkan. Paham Syech Siti Jenar sekarang ini sudah dipahami sebagai bagian dari paham sufism yang menyatakan bahwa kehidupan dunia saat ini tidak penting dan manusia harus berusaha menemukan sang Pencipta. Penyatuan diri seorang hamba pada penciptanya. Dalam pandangan seorang sufi, manusia diciptakan oleh Sang Pencipta adalah untuk tujuan Agung, yaitu untuk mengembangkan dan mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Manusia dianugrahi oleh yang Maha Kuasa kepribadian yang bersifat ketuhanan, dan nyata-nyata merupakan wujud utama diantara para makhluk atau minimal merupakan bagian dari makhluk yang bertalian dengan alam semesta. Karena itu manusia harus memenuhi tujuan penciptaannya. Hayat manusia tidak akan berakhir dengan kematiannya dan dengan keluarnya ruh dari badan jasmaninya yang kasar. Ruh akan melanjutkan perjalanan yang tidak akan kunjung habis dalam suatu alam, badan dan bentuk baru.

Pengajaran yang dilakukan oleh Syech Siti Jenar telah menimbulkan kontroversial dikalangan masyarakat terutama di tanah Jawa. Pandangannya bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan atau dikatakannya sesuatu yang mati. Tubuh manusia yang menjadi kepompong bagi jiwa didalam kehidupan di dunia dalam pandangan Syech Siti Jenar tidak lebih dari bangkai. Hidup itu baru benar terjadi setelah manusia meninggalkan dunia dan keduniawian ini. Pandangan ini sewaktu disampaikan dari mulut kemulut menjadi berlipat lipat ganda kekeliruannya. Semua adalah berdasarkan "katanya" bukan berdasarkan suatu fakta. Syech Siti Jenar telah menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah semata-mata berdasar informasi "katanya." Pemahaman sufism mengenai penyatuan diri antara hamba dengan penciptaNya (sebagaimana yang mungkin disampaikan oleh Syech Siti Jenar) adalah merupakan perwujudan tingkat ketinggian komunikasi tertinggi yang dicapai oleh seorang hamba dengan penciptaNya. Penyatuan diri seorang hamba dengan penciptaNya dapat diartikan bahwa sang hamba sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, kemauan yang selama ini datang dari dirinya sendiri. Keadaan demikian dapat terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari hamba itu kepada sang penciptaNya. Diantara para Sunan sebenarnya terdapat yang dapat memahami pandangan Syech Siti Jenar karena mereka sendiri sebenarnya juga manusia-manusia pelaku sufism. Apa salahnya seorang manusia mencari Tuhan sebagai arti bahwa manusia diharuskan untuk mencari Ridho Illahi? Apakah salah untuk mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan itu tidak ada yang ada adalah hanya Tuhan itu sendiri sebagai suatu penegasan bahwa manusia adalah tidak ada arti bagi sang Penciptanya.

Selasa, 14 Juli 2009

SYECH SITI JENAR

Pandangan mayarakat umum  terhadap Syech Siti Jenar telah berubah seratus persen. Hampir semua intelektual Islam sudah dapat menerima pandangan Syech Siti Jenar yang dulunya dianggap sesat dan menyesatkan. Paham Syech Siti Jenar sekarang ini sudah dipahami sebagai paham sufism yang menyatakan bahwa kehidupan dunia saat ini tidak penting dan manusia harus berusaha menemukan sang Pencipta.

Pemahaman sufism mengenai penyatuan diri antara hamba dengan penciptaNya (sebagaimana yang mungkin disampaikan oleh Syech Siti Jenar) adalah merupakan perwujudan tingkat ketinggian komunikasi tertinggi yang dicapai oleh seorang hamba dengan penciptaNya. Penyatuan diri seorang hamba dengan penciptaNya dapat diartikan bahwa sang hamba sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, kemauan yang selama ini datang dari dirinya sendiri. Keadaan demikian dapat terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari hamba itu kepada sang penciptaNya.
Pengajaran yang dilakukan oleh Syech Siti Jenar telah menimbulkan kontroversial dikalangan umat Islam di tanah Jawa. Pandangannya bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan atau dikatakannya sesuatu yang mati. Tubuh manusia yang menjadi kepompong bagi jiwa didalam kehidupan di dunia dalam pandangan Syech Siti Jenar tidak lebih dari bangkai. Hidup itu baru benar terjadi setelah manusia meninggalkan dunia dan keduniawian ini. Pandangan ini sewaktu disampaikan dari mulut kemulut menjadi berlipat lipat ganda kekeliruannya. Semua adalah berdasarkan "katanya" bukan berdasarkan suatu fakta. Syech Siti Jenar telah menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah semata-mata berdasar informasi "katanya."


Ajaran Syech Siti Jenar telah menimbulkan keresahan di dalam masyarakat Jawa. Pandangan Syech Siti Jenar telah menimbulkan perbedaan pendapat diantara Walisongo. Diantara para Sunan dapat memahami pandangan Syech Siti Jenar karena mereka sendiri sebenarnya juga manusia-manusia pelaku sufism. Apa salahnya seorang manusia mencari Tuhan sebagai arti bahwa manusia diharuskan untuk mencari Ridho Illahi? Apakah salah untuk mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan itu tidak ada yang ada adalah hanya Tuhan itu sendiri sebagai suatu penegasan bahwa manusia adalah tidak ada arti bagi sang Penciptanya. Namun hasutan dan kesombongan lebih berkuasa sebagai perwujudan dari sifat egoisme manusia. Kepentingan dan kebencian telah mewarnai apa yang dinamai sebagai suatu keresahan. 

(masih dalam proses penulisan)